Ringkasan Berita
- OJK menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan Indonesia tetap terjaga meskipun terdapat dinamika dan ketidakpastian geopolitik global yang masih berlanjut.
- Ekonomi global menghadapi risiko stagflasi dengan pertumbuhan dipangkas IMF menjadi 3,1%, didorong oleh fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok energi akibat blokade Selat Hormuz.
- Perekonomian AS melemah dengan inflasi yang kembali meningkat, sementara ekonomi Tiongkok tumbuh 5,0% di kuartal I-2026 tetapi mulai menunjukkan pelemahan momentum.
- Ekonomi Indonesia tumbuh solid sebesar 5,61% didukung konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah, dengan cadangan devisa yang kuat sebesar USD148,2 miliar pada Maret 2026.
- Kondisi pasar domestik menunjukkan sentimen konsumen yang masih optimis dan pertumbuhan penjualan ritel, meskipun terjadi kontraksi pada penjualan kendaraan bermotor.
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah dinamika global. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 April 2026.
Kondisi perekonomian dunia masih diwarnai ketidakpastian geopolitik meski terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel pada 8 April 2026.
Penutupan Selat Hormuz akibat blokade kedua pihak membuat distribusi energi global belum sepenuhnya pulih, sehingga harga minyak tetap volatile di level tinggi.
IMF dalam World Economic Outlook April 2026 bertajuk 'Global Economy in the Shadow of War' memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1 persen. Risiko stagflasi dinilai meningkat akibat fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok.
Perekonomian AS menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan kuartal I-2026 diperkirakan turun. Inflasi kembali meningkat dipicu kenaikan harga barang dan energi, sementara sentimen konsumen melemah.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada rapat FOMC akhir April 2026. Di sisi lain, Tiongkok mencatat pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,0 persen sesuai target, ditopang ekspor dan manufaktur.
Namun, momentum mulai melemah dengan ekspor Maret 2026 yang melambat dan permintaan domestik belum menguat. Untuk domestik, ekonomi Indonesia tumbuh solid 5,61 persen, ditopang konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah.
Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimis, penjualan ritel tumbuh 2,4 persen secara tahunan, sementara penjualan kendaraan bermotor terkontraksi. Cadangan devisa Maret 2026 tercatat USD148,2 miliar dengan surplus neraca perdagangan USD1,2 miliar. (mid/mar)










