Ekonomi Jatim Tumbuh 5,96 Persen, Tertinggi di Pulau Jawa

Ringkasan Berita
  • Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96% (y-on-y) pada Triwulan I 2026, tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan nasional.
  • Pertumbuhan didorong sektor jasa lainnya (13,44%) dan akomodasi-makan minum, serta konsumsi pemerintah yang naik 20,33% karena THR ASN dan belanja.
  • Struktur ekonomi utama ditopang industri pengolahan (31,45%), perdagangan (18,77%), dan pertanian (10,51%), dengan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional (14,40%).
  • Pemprov memperkuat strategi pengendalian inflasi, pasar murah, dan misi dagang yang telah mencatat transaksi triliunan rupiah di dalam negeri dan potensi ke Malaysia.
  • Pencapaian ini disebut sebagai hasil kerja sama menjaga stabilitas daerah, dengan Jawa Timur sebagai penyumbang terbesar kedua di Pulau Jawa (25,16%).

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada Triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen (y-on-y), tertinggi di Pulau Jawa. Secara quarter-to-quarter, ekonomi Jatim tumbuh 1,25 persen dibandingkan Triwulan IV 2025.

Gubernur Khofifah menyatakan bahwa capaian tersebut sebagai bukti ketahanan sekaligus akselerasi ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global. 

“Alhamdulillah, di tengah tantangan global yang masih dinamis, ekonomi Jawa Timur mampu tumbuh tertinggi se-Jawa dan melampaui nasional. Ini patut kita syukuri sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Struktur ekonomi Jatim ditopang industri pengolahan (31,45 persen), perdagangan (18,77 persen), dan pertanian (10,51 persen). Jawa Timur juga menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap perekonomian Pulau Jawa (25,16 persen) dan nasional (14,40 persen).

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor jasa lainnya sebesar 13,44 persen, didorong meningkatnya aktivitas rekreasi dan pariwisata. Sektor akomodasi dan makan minum juga tumbuh signifikan berkat Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah naik 20,33 persen, dipicu pembayaran THR ASN dan belanja barang serta jasa. Untuk menjaga momentum, Pemprov Jatim memperkuat strategi pengendalian inflasi, pasar murah, dan stabilisasi pasokan pangan. 

Selain itu, perdagangan antardaerah dan ekspor terus didorong melalui Misi Dagang dan Investasi. Sepanjang 2025, misi dagang di 12 provinsi mencatat transaksi Rp16,30 triliun. 

Pada 2026, transaksi di Jawa Tengah mencapai Rp3,15 triliun, di DKI Jakarta Rp5,74 triliun, dan potensi transaksi ke Malaysia Rp15,25 triliun.

“Misi dagang menjadi instrumen penting dalam memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus memperluas pasar produk Jawa Timur,” kata Khofifah. 

Ia menegaskan capaian pertumbuhan ekonomi merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat menjaga stabilitas daerah. 

“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus bersinergi menjaga Jawa Timur tetap aman, kondusif, dan produktif sebagai Gerbang Baru Nusantara,” pungkasnya. (dev/mar)