Ringkasan Berita
- Gubernur Jawa Timur Khofifah memimpin gerakan panen dan tanam untuk memperkuat posisi Jatim sebagai lumbung pangan nasional dan mendorong kedaulatan pangan berkelanjutan.
- Produksi padi di Jatim tahun 2025 mencapai 10,44 juta ton GKG, naik 12,6% dari tahun sebelumnya, dan diproyeksikan meningkat 5,28% pada semester I 2026.
- Gubernur optimis surplus beras cukup hingga tahun depan dan berpotensi ekspor, dengan fokus pada modernisasi alat pertanian (alsintan) untuk menarik generasi muda.
- Upaya percepatan tanam meliputi penggunaan benih unggul bersertifikat, optimalisasi alsintan, pola tanam adaptif berbasis teknologi, serta penguatan sistem irigasi dan pelaporan.
- Jawa Timur telah menyumbang 238.000 hektare dari target nasional 1,7 juta hektare, dengan target peningkatan produksi 5% yang didukung mitigasi risiko gagal panen.
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Gubernur Khofifah memimpin Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Jumat (8/5/2026). Langkah tersebut menegaskan komitmen Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional sekaligus penggerak kedaulatan pangan berkelanjutan.
“Tidak sekedar bagaimana kita memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tapi juga kita ingin menjadi bagian yang bisa membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan tapi berkedaulatan pangan berkelanjutan,” kata Khofifah.
Berdasarkan data BPS 2025, Jatim mencatat luas panen 1,84 juta hektare dengan produksi padi 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 12,60% dari tahun sebelumnya. Rilis BPS 4 Mei 2026 memproyeksikan produksi Januari-Juni 2026 mencapai 6,62 juta ton GKG, meningkat 5,28% dibanding periode sama tahun lalu.
Khofifah optimis surplus padi dan beras di Jatim cukup hingga tahun depan, bahkan membuka peluang ekspor. Ia menekankan pentingnya modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti transplanter, rotavator, drone sprayer, hingga combine harvester.
“Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda sehingga mereka tidak semua ke kota, tapi mereka juga menjadi bagian dari penguat sektor pertanian,” tuturnya.
Pemprov Jatim juga mendorong percepatan tanam dengan benih unggul bersertifikat, optimalisasi alsintan, pola tanam adaptif berbasis teknologi, penguatan irigasi, serta sistem pelaporan cepat jika terjadi bencana atau serangan organisme pengganggu tanaman.
“Panjenengan semua ini para pahlawan-pahlawan pangan yang luar biasa,” ucap Khofifah.
Sementara itu, Plh. Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Tin Latifah, menyebut Jatim telah berkontribusi 238.000 hektare dari target nasional 1,7 juta hektare hingga Mei 2026.
Ia optimis peningkatan produksi padi Jatim sebesar 5% akan tercapai dengan mitigasi risiko puso akibat kekeringan maupun organisme pengganggu tanaman. (dev/mar)










