Ringkasan Berita
- DKPP Kabupaten Sumenep mendorong inovasi budidaya tembakau untuk meningkatkan kualitas hasil panen dan menghadapi dampak perubahan iklim.
- Salah satu inovasi adalah penggunaan kotoran kelelawar yang difermentasi sebagai pupuk organik di Kecamatan Rubaru, untuk meningkatkan kualitas daun dan mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik.
- Dua kelompok tani dari Sumenep berprestasi pada program inovasi tahun lalu, meraih peringkat pertama dan ketiga di tingkat Jawa Timur, dan program lanjutan diberikan kepada juara pertama.
- DKPP memberikan pendampingan kepada petani melalui penyuluh pertanian untuk menghadapi cuaca ekstrem, termasuk edukasi pembuatan bedengan lebih tinggi dan pengelolaan drainase yang baik.
- Kolaborasi aktif antara petani dan penyuluh pertanian menjadi kunci menjaga produktivitas tembakau serta harapan untuk hasil maksimal dari sisi kualitas, produksi, dan harga jual.
SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep terus mendorong inovasi budidaya tembakau untuk meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim.
Kepala Bidang Sarana DKPP Kabupaten Sumenep, Rina Suryanda, mengatakan bahwa melalui program inovasi tembakau yang didukung pemerintah provinsi, para petani didorong untuk mengembangkan metode budidaya guna meningkatkan mutu daun tembakau.
Pada tahun lalu, dua kelompok tani asal Sumenep berhasil meraih prestasi dalam program tersebut dengan menempati peringkat pertama dan ketiga di tingkat Jawa Timur.
"Tahun ini program inovasi itu kembali berlanjut. Kelompok tani yang menjadi juara pertama mendapatkan kegiatan lanjutan untuk mengembangkan hasil inovasi yang telah mereka lakukan," katanya, Selasa (23/6/2026).
Salah satu inovasi yang saat ini diterapkan petani berada di Kecamatan Rubaru, di mana mereka memanfaatkan kotoran kelelawar yang difermentasi sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kualitas daun tembakau sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik.
Di sisi lain, DKPP juga terus melakukan pendampingan kepada petani dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu melalui penyuluh pertanian, termasuk edukasi pembuatan bedengan lebih tinggi dan pengelolaan drainase agar tanaman tidak mudah rusak saat hujan.
Rina mengimbau petani untuk aktif berkonsultasi dengan penyuluh pertanian apabila menemukan kendala di lapangan.
Menurutnya, kolaborasi antara petani dan penyuluh menjadi kunci dalam menjaga produktivitas tembakau di tengah perubahan iklim.
"Harapan kami seluruh petani tembakau di Kabupaten Sumenep bisa mendapatkan hasil yang maksimal, baik dari sisi kualitas, produksi maupun harga jual," ucapnya (van)










