Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 46. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
46. A fa lam yasîrû fil-ardli fa takûna lahum qulûbuy ya‘qilûna bihâ au âdzânuy yasma‘ûna bihâ, fa innahâ lâ ta‘mal-abshâru wa lâkin ta‘mal-qulûbullatî fish-shudûr
Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.
TAFSIR
Spesial potongan ayat ini, diunggah kembali makna “al-qulub”, bentuk jamak dari mufrad “qalbu”. Meskipun pada umumnya kata “qalbu” diterjemah dengan “HATI”, tetapi sesungguhnya qalbu – perspektif organ tubuh - tidak bermakna hati, lebih tepatnya bermakna JANTUNG. Setidaknya ada tiga alasan yang globalnya terambil dari ujung ayat kaji ini.
Pertama, qalbu, qulub dengan kata kerja “qalaba”, artinya membalik, bolak balik. Organ tubuh yang kerja dan gerakannya bolak balik, dag-dig-dug, itu jantung, bukan hati. Bahasa arabnya hati adalah “kabid”, Kaf, Ba’, Dal. Hati atau kabid itu fungsinya filter, bukan memompa darah.
Qalbu ini punya senso motoris yang sangat sensitive, merespons secara reflektif apa saja yang diperhatikan oleh mata dan dirasakan manusia. Makanya, saat kita menghadapi situasi monumental, harap-harap, ketakutan, maka kerja dan detak jantung meningkat menjadi cepat dan kuat, deg-degan. Sementara hati (kabid) tidaklah begitu.
Kedua, “... al-qulub al-lati fi al-shudur”. Kalbu itu tempatnya di dalam rongga dada. Sekarang kita lihat saja, organ kita yang letaknya di dalam rongga dada itu apa? Hati atau Jantung? Pasti jantung dan bukan hati.
Jantung ditaruh di dada dan dilindungi dengan tulang-tulang dada yang terstruktur unik dan kokoh, demi keamanan. Sedangkan hati terletak di bawahnya, masuk wilayah perut. Ya, tapi sudah lumrah, kita terbiasa menterjemah al-qalbu dengan hati.
Oke. Tapi aneh, ketika situasi tegang mengagetkan, seseorang berucap: “Hatiku rasane gak karuan, deg-deg plas..”, sementara telapak tangannya diletakkan, didekapkan di dada sebelah kiri, persis tempat jantung, bukan di daerah perut.
Ketiga, dalam al-Hadis, Rasulullah SAW mewejang peran penting qalbu ini yang dinyatakan sebagai segumpal daging yang amat menentukan kondisi manusia. Bila segumpal daging itu bagus, “shaluhat”, maka baguslah seluruh badan. Tapi jika buruk (fasadat), maka badan menjadi buruk total. Itulah al-qalbu.
Dari tinjauan medik sudah sangat jelas. Jantung anda bermasalah, kronis, ya sudah, selain tidak sehat, sakitnya bukan main, tinggal tunggu ajal saja. Tapi jika jantung anda sehat, seluruh badan segar dan kehidupan bisa dinikmati. Dari tinjauan sufistik, baik dan buruknya seseorang itu ditentukan dari sifat qablunya, berhati mulia atau berhati durhaka, dst.










