JOMBANG,BANGSAONLINE.com - Persiapan fasilitas Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kini telah mencapai 85 persen menjelang pembukaan.
Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyampaikan progres tersebut saat mendampingi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar meninjau langsung sejumlah lokasi di kompleks pesantren.
Gus Ipul mengatakan waktu yang tersisa sebelum pembukaan akan dimanfaatkan untuk merampungkan berbagai fasilitas yang masih dalam tahap penyelesaian.
"Pendampingan kepada Rais Aam dilakukan demi memastikan kesiapan lokasi acara secara langsung menjelang pembukaan," terang Gus Ipul.

Kesiapan akomodasi menjadi salah satu perhatian panitia mengingat kawasan Tambakberas harus melayani kebutuhan lebih dari 3.000 utusan Muktamar.
Selain peserta resmi, kebutuhan konsumsi juga dipersiapkan bagi rombongan pengunjung dengan dukungan dapur umum yang berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Tambakberas telah siap menerima lebih dari 3.000 peserta Muktamar dengan akomodasi yang cukup memadai. Konsumsi juga terus disempurnakan perencanaannya," ujarnya.
Sementara itu, pengerjaan fasilitas persidangan terus dikebut, termasuk panggung utama dan lokasi pembukaan yang disiapkan di Lapangan Untung Suropati, Desa Tambakrejo.
Untuk agenda pembukaan, PBNU telah mengirimkan surat permohonan kepada Presiden Prabowo Subianto agar dapat hadir sekaligus meresmikan pembukaan Muktamar ke-35 NU.
Panitia berharap agenda Presiden dapat disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan yang telah disiapkan untuk rangkaian pembukaan.
Anggota Steering Committee Muktamar ke-35 NU, Prof. Muh. Nuh, mengatakan materi persidangan telah selesai disusun dan kini masuk tahap pencetakan. Dokumen tersebut disediakan dalam bentuk cetak dan digital agar dapat diakses seluruh utusan.
"Materi yang terkait dengan Muktamar sudah masuk percetakan. Kita siapkan dua-duanya, ada file digital dan hard copy," kata Muh. Nuh.
Muh. Nuh menyebut Muktamar ke-35 NU memiliki nilai sejarah tersendiri karena menjadi muktamar pertama yang digelar pada abad kedua perjalanan NU dan berlangsung di tempat yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan para pendiri atau muassis organisasi.
Seluruh persiapan tersebut dikerjakan dalam waktu sekitar 50 hari sejak penetapan pelaksanaan Muktamar. Menurutnya, percepatan pengerjaan dapat terlaksana berkat sinergi pengasuh pesantren, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga dukungan dari berbagai kalangan lintas agama.
"50 hari sejak ditetapkan sampai sekarang bekerja terus selama 24 jam. Ini cukup membanggakan buat kita semua," pungkasnya. (aan/van)










