JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Sayembara untuk menunjukkan ijazah SMA atau sederajat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kini telah mencapai total hadiah Rp2 miliar.
Pakar hukum tata negara Denny Indrayana mengumumkan total hadiah sayembara tersebut telah menembus Rp2 miliar. Namun, di tengah nominal yang terus bertambah, muncul pandangan berbeda mengenai dokumen pendidikan Gibran.
Mantan kader PSI Ade Armando menyebut persoalan tersebut sejak awal perlu dilihat dari riwayat pendidikan Gibran. Menurutnya, Gibran memang tidak memiliki ijazah SMA dari sekolah di Indonesia karena pendidikan menengahnya ditempuh di luar negeri.
Sementara itu, Denny tetap mendorong publik untuk menunjukkan dokumen pendidikan yang menjadi sasaran sayembara tersebut.
"Hadiah Sayembara Ijazah SMA/Sederajat Gibran tembus Rp 2 Miliar," tulis Denny Indrayana di akun X.
Denny mengatakan sayembara tersebut kini dikampanyekan secara lebih terbuka karena semakin banyak pihak yang ingin berpartisipasi. Dia juga kembali membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap sayembara tersebut.
"Sekarang sudah saya kampanyekan lebih terbuka, karena banyak yang ingin partisipasi membantu," ujarnya.
"Bagi yang ingin ikut menyumbang, silakan japri saya. Nama bisa kami rahasiakan, dana tidak perlu ditransfer, cukup komitmen. Kecuali ijazah SMA/sederajat Gibran memang ditunjukkan," ungkap dia.
Di tengah sayembara yang nilainya kini mencapai miliaran rupiah, Ade Armando justru menyampaikan penjelasan mengenai latar belakang pendidikan Gibran. Dia mengatakan Gibran tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMA di Indonesia.
“Kita semua harus tahu Gibran memang tidak pernah lulus SMA di Indonesia," kata Ade dalam tayangan di akun Instagram, dikutip Jumat (21/8/2026).
“Dia tidak punya ijazah SMA karena dia mengikuti proses pendidikan sekolah menengah di luar negeri yang setara dengan SMA di Indonesia," ujar Ade.
Ade memaparkan Gibran bersekolah di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada 2002-2004. Setelah itu, Gibran melanjutkan pendidikan di UTS Insearch, Sydney, Australia, pada 2004-2007.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, perjalanan pendidikan Gibran berlanjut ke Management Development Institute of Singapore (MDIS), yang bekerja sama dengan University of Bradford. Gibran tercatat menempuh pendidikan di institusi tersebut pada 2007-2010.
Persoalannya kemudian bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya ijazah SMA yang diterbitkan sekolah di Indonesia, melainkan status kesetaraan pendidikan yang ditempuh Gibran di luar negeri. Ade mengatakan pendidikan tersebut telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia.
“Ya setara, dan itu ditetapkan melalui surat keterangan penyetaraan yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," ungkapnya.
“Kementerian konsisten dengan jawabannya sehingga sebenarnya secara hukum tak ada lagi keraguan tentang jenjang pendidikan sekolah menengah yang pernah diikuti Gibran," jelas Ade.










