Ringkasan Berita
- Ketua Umum PKN Anas Urbaningrum menilai polemik seputar pernyataan Budi Arie sebagai perdebatan klise yang tidak penting.
- Ia menekankan fokus seharusnya pada perbaikan kinerja pemerintah, evaluasi, serta komunikasi kebijakan yang elegan untuk menghindari residu komunikasi.
- Anas menyatakan Presiden perlu informasi objektif dari laporan pemerintah, bukan yang 'asal bapak senang', untuk mengambil kebijakan tepat, bukan kosmetik.
- Langkah-langkah berbasis kepuasan publik itu dianggap dapat memodifikasi cuaca politik menjadi lebih stabil.
- Ia menegaskan demokrasi harus produktif dan sehat, bukan maju-mundur atau penuh retakan, agar energi bangsa fokus pada pembangunan.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional (PKN), Anas Urbaningrum, menanggapi pernyataan mantan Menteri Komunikasi dan Digital, Budi Arie, di hadapan Presiden Joko Widodo terkait isu perubahan sebelum 2029.
Menurut dia, polemik tersebut tidak penting karena hanya akan menjadi perdebatan klise. Saat dikonfirmasi BANGSAONLINE.com, Kamis (27/8/2026), ia mengatakan, “Pertengkaran terkait omongan Budi Arie ini bukanlah hal yang penting. Karena hanya akan menjadi perdebatan klise atau baku pertuduhan.”
Anas menilai hal yang lebih mendesak adalah memperbaiki kinerja pemerintah sebagai kunci kebijakan yang baik dapat diimplementasikan dengan benar. Ia menekankan perlunya evaluasi, koreksi, serta komunikasi kebijakan yang elegan agar tidak menimbulkan residu komunikasi.
Presiden, kata Anas, penting menajamkan daya periksa terhadap laporan dari jajaran pemerintah untuk menekan praktik laporan asal bapak senang (ABS).
“Presiden perlu informasi yang obyektif untuk ambil langkah dan kebijakan yang tepat, bukan yang kosmetik,” ujarnya.
Ia beranggapan, langkah-langkah tersebut akan memodifikasi cuaca politik menjadi lebih stabil karena berbasis pada kepuasan publik. Anas menegaskan demokrasi sehat harus produktif, bukan maju-mundur atau penuh retakan.
“Berkah demokrasi kita, jangan jadi retakan dan patahan. Energi bangsa ini lebih baik difokuskan membangun demokrasi produktif,” pungkasnya. (afa/mar)










