NU Harus Jadi Kompas Moral, Bukan Sekadar Kekuatan Struktural

JOMBANG, BANGSAONLINE.com-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang yang melahirkan sejumlah keputusan penting dinilai harus menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk melakukan pembaruan dalam memasuki Abad Kedua.

Perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum yang harus melalui Proses Ahwa dan mendapat persetujuan Rois Am, tidak seharusnya berhenti sebagai Perubahan Tata Cara Organisasi.

Perubahan mekanisme harus diikuti perubahan cara berpikir, kultur kepemimpinan dan orientasi perjuangan NU.

Demikiain seruan moral Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman.

Menurut dia, NU memiliki tanggung jawab sejarah untuk memastikan abad kedua bukan sekadar kelanjutan usia organisasi, tetapi menjadi fase kebangkitan NU sebagai kekuatan moral, intelektual dan peradaban.

“Mekanisme baru harus melahirkan kepemimpinan baru, Kepemimpinan baru harus melahirkan kultur baru, dan kultur baru harus membawa NU menjadi Suluh Peradaban,” ujar Sudarsono.

Menurut dia, salah satu agenda penting NU abad kedua adalah memperkuat kembali jati diri NU sebagai Organisasi Ulama yang mampu membimbing Umat menghadapi perubahan zaman.

Ulama tidak cukup hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial, perubahan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi global, krisis lingkungan, perubahan perilaku generasi muda dan berbagai persoalan kemanusiaan membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kedalaman agama sekaligus keluasan wawasan.

“NU abad kedua tidak cukup hanya membutuhkan orang yang alim, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca kitab sekaligus membaca zaman, menjaga tradisi sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban,” kata Cak Dar panggilan akrab putra Bawean.

Dalam perspektif tersebut, tegas dia, tradisi Aswaja harus menjadi energi untuk membangun kehidupan yang moderat, toleran, adil dan menghargai kemajemukan.

NU harus mampu menunjukkan bahwa Islam bukan kekuatan yang menakutkan, melainkan kekuatan yang menghadirkan rahmat, perdamaian dan kemanusiaan.

Cak Dar juga menilai tantangan terbesar NU abad kedua bukan semata-mata menjaga kebesaran struktur, melainkan menjaga agar masyarakat tidak kehilangan orientasi moral di tengah perubahan.

“Ketika masyarakat terbelah, NU harus mempersatukan. Ketika perbedaan menjadi konflik, NU harus mengajarkan penghormatan. Ketika kemajuan teknologi tidak diimbangi etika, NU harus menghadirkan nilai. Ketika nasionalisme menghadapi tantangan globalisasi, NU harus memperkuat kecintaan kepada bangsa tanpa kehilangan wawasan kemanusiaan universal,” ujarnya.

Dengan demikian, menurut Cak Dar, NU tidak sekadar menjadi organisasi yang besar secara jumlah, tetapi menjadi kekuatan yang memberi arah bagi kehidupan kebangsaan.

Forum Aktivis NU Jawa Timur juga mengingatkan pentingnya membedakan tradisi penghormatan kepada ulama dengan kultur feodal.

Ta'dzim kepada kiai merupakan kekayaan moral NU, tetapi penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan, apalagi menjadi dasar bagi privilese politik dan organisasi.

“NU harus menghormati nasab, tetapi jangan menjadikan nasab sebagai tiket kepemimpinan. NU harus menghormati sejarah keluarga, tetapi kepemimpinan tetap harus ditentukan oleh ilmu, akhlak, integritas, kapasitas dan ketakwaan,” tegas Sudarsono.

Menurut dia, yang diwariskan para pendiri NU bukan hak untuk menguasai organisasi, tetapi amanah untuk mengabdi kepada Umat, Bangsa dan Kemanusiaan.

Sebab ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukan darah biru, jabatan atau kedekatan dengan kekuasaan.

Ia menegaskan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Karena itu, NU harus berani membuka ruang bagi seluruh kader terbaiknya, panggil Anak Muda NU yang Berada di Luar Struktur

Cak Dar juga meminta kepemimpinan baru memberikan perhatian serius kepada generasi muda NU yang selama ini berkiprah di luar struktur organisasi.

Mereka berada di kampus, dunia profesional, teknologi, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, lingkungan dan gerakan kemanusiaan,

Mereka adalah bagian dari kekuatan NU meskipun tidak semuanya berada dalam struktur.

“Jangan sampai NU kehilangan anak-anak terbaiknya hanya karena mereka tidak berada dalam struktur. Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu memanggil, merangkul dan memberikan ruang kepada kader terbaik untuk mengabdi,” ujar Cak Dar.

Karena itu, kepemimpinan NU harus mampu mengatakan kepada mereka : “Mari pulang, Mari mengabdi, Mari membangun NU bersama.”

Bukan untuk berebut jabatan, tetapi untuk mengerjakan kerja kemanusiaan dan peradaban.

Menurut dia, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NU harus terus memainkan peran sebagai kekuatan Islam kebangsaan yang menjaga persatuan Indonesia.

NU dapat menjadi partner pemerintah dalam pembangunan, terutama dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, pemberdayaan masyarakat, kebudayaan dan kemanusiaan.

Namun kemitraan dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan independensi moral NU.

NU harus dekat dengan negara, tetapi tidak boleh kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan.

Mendukung kebijakan yang baik, mengingatkan ketika terjadi penyimpangan, dan menawarkan jalan keluar bagi persoalan bangsa adalah bentuk khidmah NU kepada Indonesia.