SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (1/9/2026). Acara yang digelar dimulai pukul 10.00 WIB itu dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran Unair Prof Dr Eighty Mardian Kurniawati beserta jajaran wakil dekan dan para mahasiswa.
Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto tampil sebagai penceramah.
Kiai Asep menceritakan proses kehidupan Nabi Muhammad sejak kecil. Menurut Kiai Asep, Nabi Muhammad dididik langsung oleh Allah SWT.
“أَدَّبَنِي ربِّي، فأَحْسَنَ تَأْدِيبِي. Tuhanku mendidikku, sehingga pendidikanku menjadi baik,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.
Menukil riwayat Nabi, Kiai Asep mengungkap bahwa sewaktu kecil Nabi Muhammad pernah dibedah dadanya oleh Malaikat Jibril. Saat itu Nabi berusia 4 tahun sedang bermain dengan teman sepersusuannya di perkampungan Bani Sa’ad. Teman sepersusuan Nabi adalah Syaima, Abdullah bin Al Harits, dan Anisah.
“Malaikat Jibril mengeluarkan hati Nabi lalu membasuhnya dengan air zamzam,” ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.
Melihat peristiwa itu teman sepersusuan Nabi ketakutan. Mereka mengira Nabi dibunuh. Mereka lari melaporkan peristiwa itu kepada Halimah As-Sa’diyah, ibu susu Nabi. Halimah bersama warga lalu mendatangi Nabi. Ternyata Nabi dalam keadaan selamat, tapi wajahnya agak pucat.
Ketika usianya beranjak dewasa, Nabi Muhammad mengajukan lamaran agar diperkenankan menjual dagangan Siti Khadijah, seorang konglomerat besar di tanah Arab.
“Nabi Muhammad kemudian diberi tugas menjual dagangannya ke Syam atau Damaskus,” ujar Kiai Asep.
Tidak sendirian. Siti Khadijah mengutus Maisaroh untuk mendampingi Nabi Muhammad. “Maisaroh ini laki-laki. Siti Khadijah berpesan kepada Maisaroh agar semua apa yang dilakukan Nabi Muhammad direkam,” ujar Kiai Asep.
Baru berangkat, Maisaroh sudah melihat keajaiban tentang Nabi Muhammad. Menurut Kiai Asep, sepanjang perjalanan Nabi Muhammad dipayungi oleh awan sehingga tak tersengat panasnya matahari.
“Tiba di Damaskus dagangannya laris,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
“Kuncinya, jadilah pedagang yang menjual murah dan pembeli yang murah. Artinya, jangan besar-besar labanya. Yang penting lancar dan cepat lakunya,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa strategi dagang model ini banyak dilakukan orang China di Indonesia.
Begitu juga pembeli yang murah. Bukan berarti menawar serendah-rendahnya. Tapi berdasarkan takaran yang pas sesuai harga yang wajar.
“Tapi ada yang lebih mengejutkan lagi saat Nabi di Damaskus. Ada seorang pendeta bernama Nastur tiba-tiba keluar ke pasar. Padahal sebelumnya pendeta ini tak pernah keluar. Ia sibuk menelaah kitab-kitabnya,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden RI.
Pendeta tersebut, menurut Kiai Asep, mendekati Nabi tapi kemudian menjauh.
“Setelah itu mendekat lagi lalu menjauh,” ujar Kiai Asep sembari menjelaskan bahwa pendeta tersebut terus mengamati Nabi.
Nabi kemudian berteduh di bawah sebuah pohon. Sebagian riwayat menyebut pohon itu adalah pohon Sahabi atau The Blessed Tree. Pendeta itu semakin terkesima dengan Nabi.
Pendeta Nastur itu kemudian mendekati Maisaroh. “Pendeta itu bilang kepada Maisaroh bahwa temanmu itu adalah seorang Nabi yang nanti akan membawa syariat,” ujar Kiai Asep.
“Karena tak ada orang yang berteduh di bawah pohon itu kecuali calon Nabi. Nastur menyaksikan bahwa Nabi berteduh di bawah pohon itu,” tambah Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, dalam Injil dan Taurat dijelaskan bahwa tanda-tanda kenabian itu sudah dijelaskan gamblang sehingga pendeta yang jujur dan obyektif pasti mengakui bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul.
“Di meripat Nabi ada bintik-bintik merah tapi bukan penyakit. Selain itu juga ada stempel Khatamul Anbiya’ di punggung Nabi,” ujarnya.
Menurut Kiai Asep, ketika Nabi dan Maisaroh pulang, Siti Khadijah langsung minta laporan kepada Maisaroh. “Bukan soal dapat laba berapa tapi tentang Nabi dan apa yang dialami saat berada di Syam,” ujarnya.
Mendapat laporan dari Maisaroh, Siti Khadijah langsung terpesona dengan Nabi.
“Siti Khadijah yang saat itu berumur 40 tahun kesemsem (sangat tertarik hati) dengan Nabi yang berusia 25 tahun. Siti Khadijah janda dua kali,” ujar Kiai Asep.
Nabi kemudian menikah dengan Siti Khadijah. Menurut Kiai Asep, Nabi gemar berkhlawat (menyendiri atau mengasingkan diri dari keramaian untuk bertafakkur dan merenung). Nabi berkhalwat di Gua Hira.
Saat pulang dari Gua Hira itulah Nabi merasa ketakuan, gemetar, dan menggigil serta cemas.
“Nabi mengatakan zammiluni, zammiluni, selimuti aku, selimuti aku),” ujar Kiai Asep menirukan dawuh Rasulullah.
Sayyidah Khadijah dengan penuh kasih sayang menyelimuti Nabi dan menenangkannya. Setelah menenangkan Nabi Muhammad, Siti Khadijah membawa beliau menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang pendeta Nasrani yang taat, buta, tua, dan sangat memahami kitab suci kuno.
Mendengar cerita Nabi, Waraqah langsung paham bahwa yang bertemu Nabi di Gua Hira adalah Malaikat Jibril. Waraqah menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab terdahulu, termasuk Injil dan Taurat.
Waraqah bahkan mengingatkan bahwa Muhammad sebagai Nabi akan mendapatkan banyak rintangan dari kaumnya sendiri. Nabi akan dimusuhi, disakiti, bahkan diusir oleh kaumnya sendiri.
Waraqah menyatakan akan membela Nabi seandainya ia masih hidup. “Tapi tak lama kemudian Waraqah meninggal,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep juga mengungkapkan bahwa mukjizat Nabi Muhammad adalah mukjizat paling rasional dan tetap argumentatif sampai saat ini.
“Mukjizat paling tinggi Nabi Muhammad adalah Al Quran,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, Al-Quran sangat tebal. 30 juz. Tapi mudah dihafal.
“Di Amanatul Ummah setiap tahun ada 40 anak SMP hafal 30 juz, sedangkan SMA-nya 80 anak,” ujar Kiai Asep sembari menegaskan bahwa keotentikan Al-Quran dijaga langsung oleh Allah SWT.
“Ada yang memalsukan satu huruf saja pasti ketemu karena banyak yang hafal Al-Quran,” ujar Kiai Asep.
Juga tidak ada yang membuat karya seperti Al-Quran.










