ITS Inovasikan AngetKnee dan Elevaid Chair sebagai Bentuk Dukungan Mobilitas Lansia

Ringkasan Berita
  • Tim ITS mengembangkan dua inovasi untuk kesehatan lansia: AngetKnee (alat wearable untuk terapi panas dan getaran pada lutut) dan Elevaid Chair (kursi transfer pasien elektrik). Keduanya bertujuan meningkatkan mobilitas dan mengurangi beban perawatan manual.
  • AngetKnee menggabungkan penyangga lutut, terapi panas, dan getaran dalam satu perangkat portabel. Pengujian menunjukkan kombinasi suhu 42°C dengan intensitas getaran level 2 memberikan respons terbaik untuk mengurangi nyeri osteoarthritis.
  • Elevaid Chair menggunakan linear actuator yang dikendalikan saklar untuk menaik-turunkan kursi secara bertahap, mengurangi kebutuhan mengangkat pasien manual. Hasil uji menunjukkan kelancaran transfer optimal pada beban sekitar 55 kg dan menurun pada beban mendekati 90 kg.
  • Kedua alat telah diserahkan kepada klinik dan warga di Surabaya melalui program pengabdian masyarakat, disertai sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi untuk adopsi teknologi dalam layanan kesehatan komunitas.
  • Tim akan menyempurnakan AngetKnee dengan kontrol suhu dan getaran yang lebih baik, serta meningkatkan kapasitas aktuator, kekuatan struktur, dan stabilitas Elevaid Chair berdasarkan temuan pengujian.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Tim mahasiswa dan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan AngetKnee dan Elevaid Chair, dua inovasi yang memadukan terapi panas-getaran dan mekanisme transfer pasien berbasis linear actuator guna mengakomodasi kebutuhan layanan kesehatan bagi lansia dengan keluhan lutut dan keterbatasan mobilitas.

Ketua tim pengembang, Maulana Yusuf Izzuddin menjelaskan, AngetKnee dirancang sebagai perangkat wearable yang mengintegrasikan penyangga lutut (knee support), terapi panas (thermal therapy), dan terapi getaran (mechanical vibration) dalam satu perangkat. Kombinasi tersebut dipilih karena dua metode terapi memiliki manfaat nonfarmakologis yang saling melengkapi untuk membantu meredakan keluhan nyeri dan kekakuan pada lutut penderita osteoarthritis.

Integrasi ketiga fungsi tersebut ditujukan untuk menghadirkan perangkat terapi yang praktis bagi pengguna.

“Kami ingin menggabungkan fungsi penyangga, terapi panas, dan getaran dalam satu perangkat yang ringkas dan portabel,” jelas Yusuf, sapaannya, Kamis (3/9/2026).

Seluruh komponen AngetKnee, lanjut Yusuf, mulai dari heater pad, modul getar, sensor suhu, mikrokontroler, baterai, hingga enclosure elektronik, diintegrasikan dalam sistem nirkabel. Pengujian dilakukan pada suhu heater 38°C, 42°C, dan 46°C serta intensitas getaran 1 hingga 3. Dengan menggunakan Two-way ANOVA, hasil menunjukkan kombinasi suhu 42°C dan intensitas getaran level 2 memberikan respons terbaik bagi pengguna.

Sementara itu, Elevaid Chair dikembangkan untuk membantu proses transfer pasien dengan mekanisme naik-turun elektrik. Perangkat ini menggunakan linear actuator yang dikendalikan melalui saklar DPDT, sehingga posisi kursi dapat disesuaikan secara bertahap dan mengurangi kebutuhan pemindahan pasien secara manual.

Menurut Yusuf, mekanisme tersebut dirancang untuk mengurangi beban fisik pendamping ketika membantu pasien berpindah posisi.

“Elevaid Chair dirancang untuk mengurangi kebutuhan mengangkat tubuh pasien secara manual saat proses transfer,” ungkapnya.

Dibeberkan Yusuf, Elevaid Chair diuji pada variasi beban pasien 55, 70, dan 90 kilogram serta ketinggian transfer 45, 55, dan 65 sentimeter. Hasil pengujian menunjukkan beban pasien menjadi faktor dominan yang memengaruhi seluruh variabel respons. Kelancaran transfer paling optimal diperoleh pada beban sekitar 55 kilogram, sedangkan beban mendekati 90 kilogram menyebabkan kelancaran menurun dan guncangan meningkat. 

Temuan tersebut menjadi dasar penyempurnaan kedua inovasi sebelum diterapkan lebih luas. Tim menargetkan peningkatan kontrol suhu dan getaran pada AngetKnee serta kapasitas aktuator, kekuatan struktur, kestabilan, dan pengurangan guncangan pada Elevaid Chair.

“Hasil pengujian menjadi dasar kami untuk menyempurnakan alat agar semakin aman dan sesuai kebutuhan pengguna,” ungkapnya.

Kedua teknologi tersebut juga telah diserahterimakan kepada Klinik Pratama Cita Husada dan perwakilan warga di Kecamatan Rungkut, Surabaya dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Penerapan dilakukan melalui sosialisasi, demonstrasi, pelatihan, praktik penggunaan, serta evaluasi performa dan penerimaan pengguna untuk mendukung adopsi teknologi dalam layanan kesehatan berbasis komunitas. (msn)