Sambangi Pesantren Mahasiswa di Surabaya, Ning Lia Dengarkan Suka Duka Maba Hidup Mandiri

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Melepas atribut formal sebagai anggota dewan, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama (Ning Lia), memilih hadir layaknya sosok kakak saat menemui para mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya.

Dalam kunjungannya, senator asal Jawa Timur ini ingin mendengar langsung pengalaman para mahasiswa baru yang telah sekitar sebulan menjalani kehidupan asrama, jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Suasana pertemuan berlangsung cair dan penuh keakraban. Ning Lia telaten mendengarkan berbagai kisah adaptasi—mulai dari dinamika mengurus kebutuhan pribadi, menjalin pertemanan, hingga cerita unik seperti mengantre kamar mandi.

Salah seorang mahasiswa baru asal Bojonegoro, Widya Alfa Rohman, membagikan kesannya selama satu bulan menetap di perantauan.

“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” cerita Widya kepada Ning Lia.

Meski jauh dari orang tua, Widya mengaku tidak terlalu canggung mengurus diri sendiri karena sudah memiliki bekal pengalaman dari pesantren sebelumnya. Kendala kecil yang dirasakannya justru terletak pada penyesuaian dialek dan budaya bahasa.

“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan. Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu bahasa. Ada sedikit perubahan bahasa dari Bojonegoro ke Surabaya,” tuturnya.

Kisah senada disampaikan oleh Fahima Nudinia. Ia merasa senang karena dikelilingi teman-teman asrama yang ramah dan saling mendukung.

“Teman-temannya baik-baik. Interaksi dengan teman juga menyenangkan,” ungkap Fahima.

Ketika ditanya mengenai tantangan hidup mandiri, Fahima menyebut tidak menemui kendala berarti berkat latar belakangnya yang juga pernah mengecap pendidikan pesantren. Namun, ada satu pengalaman sederhana yang menurutnya paling membekas.

“Kalau kesulitan tidak terlalu, karena dulu pernah mondok juga. Tapi yang paling terasa itu antre, terutama antre kamar mandi,” selorohnya.

Bagi Ning Lia, mendengarkan obrolan keseharian generasi muda secara langsung merupakan hal krusial untuk memahami proses pembentukan karakter dan kemandirian mahasiswa. Lewat dinamika sederhana—mulai dari belajar bahasa baru, mencuci pakaian sendiri, hingga bersabar saat mengantre fasilitas bersama—para mahasiswa baru ini tengah menapak langkah awal menuju kedewasaan.