SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Sejumlah kiai berkumpul di Gedung Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Jalan Siwalankerto Surabaya, Rabu (9/9/2026) malam. Acara yang dikoordinasi Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, itu dihadiri para kiai pengasuh pesantren dan guru besar dari berbagai daerah Jawa Timur dan sebagian dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Antara lain dari Tulungagung, Madura, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto dan Surabaya.
Dari Jawa Tengah tampak KH Shodiq Hamzah, pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyyah, Gayamsari, Semarang. Sedangkan dari Jawa Barat tampak KH Farid Wajdi dan kiai-kiai lainnya.
Para kiai itu berkumpul untuk shalat malam 12 rakaat dan istighatsah. Mereka menyikapi berbagai peristiwa yang menimpa bangsa Indonesia belakangan ini. Terutama Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang yang diduga ada praktik risywah dalam pemilihan Aahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa).
“Banyak informasi risywah dan pengkondisian dalam Ahwa, dan siapa pelakunya, masyarakat se-Indonesia, terutama warga NU, sudah tahu semua,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam acara yang dimulai seusai shalat jemaah isya’ itu.
“Pelakunya orang itu-itu saja sejak Muktamar ke-32 Makassar, Muktamar ke-33 NU di (alun-alun) Jombang, Muktamar ke-34 di Lampung, sampai Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang,” ujar putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada Agustus 2023 oleh presiden itu.
“Kalau mereka dibiarkan, kita tidak bersikap, mereka akan terus merusak NU dari muktamar ke muktamar. Pada muktamar akan datang pun mereka akan seperti itu lagi,” tegas Kiai Asep.
Kiai Asep juga menyinggung dugaan intervensi pihak istana dalam muktamar ke-35 NU itu. Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto membantah ikut campur mengatur muktamar NU. Tapi para menterinya diduga terlibat langsung sebagai operator di lapangan, termasuk melakukan pengkondisian PCNU-PCNU dan PWNU dengan cara melakukan praktik risywah.
Meski demikian, tegas Kiai Asep, banyak para kiai yang menjabat Rais Syuriah PCNU masih kuat moralnya.
“Memang ada Rais Syuriah PCNU yang menolak risywah. Ia dipanggil ke Surabaya ditawari Rp 50 juta. Ia tak mau. Lalu ketika di Jombang ia ditawari Rp 100 juta juga tetap menolak,” ujar Kiai Asep sembari menyebut daerah PCNU tersebut.
Tapi, tutur Kiai Asep, 90 % pertahanan moral PCNU tetap jebol.
“Mereka tidak berdaya untuk menolaknya,” ujar Kiai Asep. Dan mereka inilah yang kemudian memilih KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU lewat Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa).
Padahal, menurut Kiai Asep, aksi mereka merusak moral para ulama atau kiai itu jelas-jelas merusak NU. Dan itu suatu kemunkaran besar yang bisa menyebabkan timbulnya adzab Allah SWT.
“Hanya beberapa hari setelah Muktamar NU langsung ada musibah keracunan MBG 2000 lebih siswa. Di Sidoarjo 748 siswa, kemudian di Lasem 777 siswa dan guru, kemudian juga di Jombang, dan daerah lainnya,” ujar Kiai Asep.
Selain musibah MBG, tutur Kiai Asep, juga terjadi musibah erupsi anak gunung Krakatau. Erupsi itu telah memicu sebaran abu vulkanik di sekitar wilayah Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa dan Sumatra. Bahkan juga mengganggu jadwal penerbangan pesawat udara.
Kiai Asep tak ingin musibah itu menimpa orang yang tak berdosa. Karena itu Kiai Asep mengumpulkan para kiai untuk shalat malam agar musibah itu tidak menimpa orang-orang tak berdosa, tapi kembali kepada orang-orang yang dzalim. Terutama orang-orang yang dzalim terhadap Muktamar NU
“Makanya ketika tarmihim jangan membayangkan wajah siapapun tapi fokus pada orang-orang yang dzalim,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep mengutip Surat Al-Anbiya' Ayat 105 dalam Al Quran yang artinya: “Sesunggunya Allah itu menitipkan atau mewariskan bumi kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Dalam ayat itu disebutkan hamba-hamba yang sholeh itu adalah ulama,” ujar Kiai Asep sembari mengutip Surat Fathir Ayat 28 yang artinya: Sesungguhnya hamba-hamba yang takut kepada Allah hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
Karena itu Kiai Asep memimpin pembacaan hizib nashar dan surat Al-Fiil agar siapapun yang dhalim terhadap Muktamar NU segera dihancurkan oleh Allah SWT.
“Karena kita diam, kalau kemunkaran yang mereka lakukan itu kita biarkan, saya khawatir orang-orang yang tidak berdosa akan ikut kena musibah,” ujarnya.
Menurut Kiai Asep, agar musibah itu tak menimpa orang-orang tak berdosa, maka harus ada ikhtiar melaui doa agar musibah itu hanya menimpa orang-orang yang telah berbuat dzalim terhadap NU, termasuk Muktamar.
Kiai Asep mengajak semua warga NU – terutama para kiai pimpinan pesantren – terus membaca hizib nashar dan surat Al-Fiil setiap habis shalat Subuh dan shalat Ashar.
“Agar diamini para malalikat. Karena Subuh dan Ashar itu malaikat berkumpul,” ujarnya.
Sementara Kiai Shodiq Hamzah mengatakan bahwa PBNU dalam kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf tidak kental dengan pesantren. Menurut dia, acara-acara PBNU sering digelar di hotel.
“Padahal banyak pesantren besar yang bisa menampung 5.000 orang layak ditempati acara NU,” ujarnya. Kiai Yang selalu menebar senyum itu menyebut Pondok Pesantren Amanatul Ummah sebagai salah satu contoh, disamping pesantren-pesantren lain.
Acara itu dipungkasi doa oleh Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk Al Husaini, ulama dari Universitas Al Azhar Mesir.










