SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Guna mendorong minat baca sekaligus melatih kreativitas anak dalam menghasilkan karya mandiri, Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya menggelar peringatan Literacy Day.
Melalui sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga perpustakaan ini, kedua pihak berkomitmen untuk terus meningkatkan budaya literasi anak secara berkelanjutan.
Salah satu bukti nyata keberhasilan metode ini ditunjukkan oleh Aireen dan Alicia, dua siswa Sampoerna Academy yang sukses meluncurkan buku karya mereka sendiri. Karya kedua siswa ini menjadi bukti bahwa literasi tak berhenti pada aktivitas membaca, melainkan dapat berkembang menjadi kemampuan kreatif yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
National Principal Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, Maharsi Palupingrini, menjelaskan bahwa pihak sekolah menerapkan pendekatan metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang dipadukan dengan keterampilan 5C (critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan character building).
Melalui pendekatan terpadu ini, siswa tidak sekadar menyerap materi pelajaran di kelas, tetapi juga dilatih untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan realitas kehidupan sehari-hari melalui sebuah karya kreatif.
“Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi bagaimana mereka bisa menghubungkan pengetahuan itu dengan kehidupan sehari-hari melalui karya yang mereka ciptakan,” ujar Palupi.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Dra. Novelia, S.H., menyoroti tantangan literasi anak di tengah gempuran teknologi dan maraknya penggunaan gawai. Menurutnya, anak-anak masa kini harus dibekali kemampuan untuk memilih, memahami, serta menyaring informasi yang mereka terima secara kritis.
Novelia juga menegaskan bahwa esensi literasi sejatinya jauh melampaui jumlah buku yang berhasil ditamatkan seseorang.
“Anak tidak hanya ditargetkan sudah membaca sekian buku, tetapi bagaimana setelah membaca mereka memahami isi buku tersebut, menyimpulkan, dan mampu mempraktikkannya dalam kehidupan,” jelas Novelia.
Kolaborasi ini sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan siswa pada ragam fasilitas serta program literasi yang ada di Kota Surabaya. Menurut Novelia, fungsi perpustakaan saat ini telah bertransformasi menjadi ruang belajar aktif dan wadah berkreasi.
Berbagai program inovatif terus digulirkan Dispusip Surabaya untuk mencetak generasi muda yang gemar membaca dan menulis, di antaranya Wisata Buku, layanan perpustakaan keliling, hingga Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu (Gendis Sewu).
Pada peringatan Hari Literasi tahun ini, Sampoerna Academy mengusung tema "Literacy for People, the Planet, and Prosperity". Tema ini mengajak para siswa memahami bahwa literasi mencakup cakrawala yang luas, mulai dari menghargai keberagaman manusia, menjaga kelestarian lingkungan, hingga memanfaatkan ilmu untuk menciptakan karya berharga.
Selain peluncuran buku karya siswa, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pameran buku dan pertunjukan kostum berdasarkan karakter dari buku favorit siswa. Agenda ini dirancang untuk mendorong siswa agar berani membagikan pengalaman membaca mereka secara interaktif.
Sebagai bentuk apresiasi, Dispusip Kota Surabaya akan memasukkan karya tulisan Aireen dan Alicia ke dalam koleksi resmi perpustakaan daerah. Novelia berharap karya kedua pelajar tersebut mampu menginspirasi anak-anak lain di Surabaya untuk berani membaca, menulis, dan menciptakan karya sendiri.
“Yang terpenting bukan hanya serah terima buku, tetapi bagaimana kolaborasi ini terus berjalan agar anak-anak semakin dekat dengan dunia literasi,” kata Novelia.
Ia menambahkan, penguatan budaya membaca dan menulis juga terus dimaksimalkan hingga ke tingkat tapak melalui keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Di TBM, anak-anak diajak untuk membaca, menceritakan kembali isi bacaan, hingga belajar membuat karya kreatif sebagaimana yang dilakoni Aireen dan Alicia.
Melalui kolaborasi intensif antara lingkungan sekolah dan perpustakaan, diharapkan lahir lebih banyak generasi muda yang tidak hanya berperan sebagai penikmat bacaan, tetapi juga tumbuh menjadi pencipta karya.










