Atasi Anak Tidak Sekolah, Pemkot Pasuruan Launching Program Bergegas

KOTA PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Pemkot Pasuruan meluncurkan program Bergegas atau akronim dari Bergerak Bersama Mengentaskan Angka Anak Tidak Sekolah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kamis (17/9/2026).

Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi agar setiap anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan. Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, menegaskan persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) tidak boleh berhenti pada angka data semata.

“Ini bukan soal angka, tetapi alat ukur untuk melihat sejauh mana Kota Pasuruan masih memiliki anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan sekolah,” ujarnya.

Data awal per 1 September 2026 mencatat 2.565 anak ATS. Setelah pendataan dan verifikasi, jumlahnya turun menjadi 1.905 anak, terdiri atas 653 anak Lulus Tidak Melanjutkan (LTM), 656 Drop Out (DO), dan 596 Belum Pernah Sekolah (BPB).

Sebanyak 325 data dinyatakan tidak valid karena ganda atau bukan penduduk Kota Pasuruan. Adi menekankan pentingnya pemetaan rinci hingga tingkat RT untuk memastikan kondisi riil anak.

“Intervensinya tidak bisa general, tetapi harus spesifik sesuai problem masing-masing anak,” tegasnya.

Wali Kota Pasuruan meminta data ATS diintegrasikan dengan data kependudukan serta disertai rencana aksi dengan tenggat waktu jelas.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Pasuruan, Siti Rohana, menjelaskan program Bergegas memiliki 2 pilar utama, yakni pencegahan dan penanganan. 

Pencegahan dilakukan melalui deteksi dini absensi, konseling, edukasi orang tua, serta sinergi bantuan sosial. Penanganan mencakup validasi data, pendekatan anak agar kembali bersekolah, serta jalur pendidikan fleksibel melalui sekolah formal, Sekolah Rakyat, dan PKBM.

Wali Kota Pasuruan menyebut, pengentasan ATS merupakan investasi sumber daya manusia yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat. 

“Pemkot Pasuruan berkomitmen memastikan setiap anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan melalui data akurat, pembagian peran jelas, serta intervensi sesuai kebutuhan,” pungkasnya. (afa/mar)