BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dilaporkan semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) per akhir September, sebanyak 74 desa yang tersebar di 19 kecamatan tercatat mengalami krisis air bersih.
Merespons kondisi tersebut, Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro berkolaborasi dengan Lakpesdam PCNU Bojonegoro menyalurkan bantuan 8.000 liter air bersih bagi masyarakat terdampak.
Ketua Prodi PIAUD Unugiri Bojonegoro, Ahmad Farid Ustman, mengungkapkan bahwa kekeringan seolah menjadi langganan tahunan bagi warga Bojonegoro setiap kali musim kemarau tiba. Oleh karena itu, pasokan air bersih sangat mendesak untuk memenuhi kebutuhan harian warga.
"Kemarin kami melakukan dropping air bersih di tiga titik lokasi, tepatnya Desa Kayulemah, Kecamatan Sumberrejo," jelasnya, Senin (5/10/2026).
Farid menambahkan, bantuan sebanyak 8.000 liter air bersih tersebut telah didistribusikan dan disambut antusias oleh warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Selain memberikan bantuan darurat, pihaknya juga memberikan edukasi lingkungan jangka panjang.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk menanam pohon, agar mengurangi dampak kekeringan saat kemarau," ungkapnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui BPBD setempat juga terus mengintensifkan penanganan krisis air di puluhan desa terdampak.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksono, menyampaikan bahwa armada bantuan air dari pemerintah terus bergerak menyisir titik-titik kekeringan.
"Dari pemerintah sendiri juga sudah melakukan penyaluran air bersih di desa terdampak. Tercatat 3.600.000 liter air bersih tersalurkan," tandasnya. (jku/rev)









