Ringkasan Berita
- Menteri Haji dan Umrah Gus Irfan mendorong perputaran uang haji dan umrah tetap di dalam negeri agar bermanfaat bagi perekonomian Indonesia, khususnya UMKM.
- Kemenhaj mengajak UMKM Bali untuk memasuki rantai pasok kebutuhan jemaah, memanfaatkan kekuatan budaya dan kreativitas lokal untuk merebut peluang pasar haji dan umrah.
- Platform belanja digital dikembangkan agar jemaah dapat membeli kebutuhan dan oleh-oleh seperti boneka unta yang diproduksi UMKM Indonesia tanpa harus membawa barang dari Arab Saudi.
- Peningkatan daya saing UMKM Bali ditekankan melalui pemenuhan standar kualitas, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, serta sertifikasi halal dengan dukungan Ditjen PE2HU.
- Inisiatif ini merupakan bagian dari Tri Sukses Haji, khususnya sukses ekosistem ekonomi, untuk membuka pasar global bagi produk Indonesia dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
DENPASAR, BANGSAONLINE.com – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (Menhaj Gus Irfan), mendorong perputaran uang haji dan umrah agar bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Ia mengajak UMKM Bali masuk ke rantai pasok kebutuhan jemaah saat membuka Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah Tahun 2026 di Masjid Agung Sudirman, Denpasar, Bali, Sabtu (10/11/2026).
“Presiden Prabowo meminta kami agar perputaran uang di haji dan umrah sebagian bisa tertinggal di Indonesia, bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, terutama para pelaku UMKM,” jelasnya.
Ia menilai kekuatan budaya, kreativitas, dan inovasi usaha Bali menjadi modal untuk merebut peluang pasar haji dan umrah. Kemenhaj mendorong kebutuhan jemaah semakin banyak dipenuhi produk dalam negeri agar belanja haji dan umrah turut menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Bali bukan saja destinasi wisata, tetapi daerah dengan kekuatan budaya, spiritual, keramahan, dan terutama kreativitas di bidang usahanya. Saya berharap para pelaku UMKM di sini bisa cukup kreatif untuk mengisi ceruk-ceruk pasar haji maupun umrah di Indonesia,” kata Gus Irfan.
Untuk memperluas akses pasar, Kemenhaj terus mengembangkan ekosistem perdagangan, termasuk melalui platform belanja digital yang memungkinkan jemaah membeli kebutuhan dan oleh-oleh tanpa membawa langsung barang dari Arab Saudi. Ia mencontohkan boneka unta dan berbagai pakaian yang dijual sebagai oleh-oleh haji ternyata diproduksi UMKM Indonesia, antara lain dari Sidoarjo, Tulungagung, dan Tasikmalaya.
“Kalau kita beli di sini, di Indonesia, tidak ada tambahan biaya pengiriman. Dan yang jelas, uangnya pun tetap berputar di Indonesia. Itulah yang diharapkan oleh Presiden Prabowo,” jelas Gus Irfan.
Peluang tersebut harus diikuti kesiapan pelaku usaha. Menhaj menekankan pentingnya standar kualitas, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, serta sertifikasi agar produk UMKM Bali mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“UMKM Bali yang sangat kreatif harus naik kelas, dari lokal menjadi nasional, dan dari nasional menjadi global. Dorong produk-produk Bali memenuhi standar kualitas,” tegasnya.
Dukungan peningkatan daya saing akan didorong melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU), termasuk akses sertifikasi halal.
“Halal menjadi salah satu hal yang insyaallah akan dibantu oleh Dirjen PE2HU. Kita punya hubungan komunikasi yang sangat bagus dengan badan halal,” ujarnya.
Menhaj berharap expo menjadi pintu masuk bagi UMKM Bali untuk memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok haji dan umrah. Langkah ini menjadi bagian dari Tri Sukses Haji, khususnya sukses ekosistem ekonomi, agar penyelenggaraan ibadah turut membuka pasar bagi produk Indonesia dan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat. (msn)










