UAB Surabaya Dampingi Nelayan Sidoarjo Ubah Ikan Murah Jadi Pelet dan Pakan Ayam

SIDOARJO,BANGSAONLINE.com - Universitas PGRI Adi Buana (UAB) Surabaya mendampingi nelayan Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, mengolah ikan bernilai jual rendah menjadi pelet ikan dan pakan ayam untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan.

Pendampingan tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Kapasitas dan Kelembagaan Nelayan dalam Diversifikasi Produk Olahan Ikan Berbasis Teknologi Tepat Guna”.

Program ini didanai melalui Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta mendapat dukungan penuh UAB Surabaya melalui Program Laboratorium Alam Edutechnopreneurship. Produk yang dikembangkan antara lain pelet ikan dan pakan ayam ABF (Adi Buana Feed).

Program tersebut menyasar persoalan yang kerap dihadapi nelayan, yakni melimpahnya hasil tangkapan yang justru membuat harga ikan anjlok.

Saat tangkapan melimpah, terutama ikan belanak dan ikan rucah, harga jualnya dapat turun hingga Rp2.000–Rp10.000 per kilogram.

Sebagian hasil tangkapan bahkan berisiko tidak terserap pasar dan mengalami penurunan mutu.

Kegiatan ini melibatkan Kelompok Nelayan Bintang Samudera Biru di Desa Tambak Cemandi, Sedati, dengan pendampingan Pengurus Wilayah Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Jawa Timur.

Tim pelaksana terdiri atas Moch. Shofwan sebagai ketua, serta M. Nushron Ali Mukhtar dan Vivin Andriani sebagai anggota.

Ketua tim pelaksana, Moch. Shofwan, menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi nelayan selama ini masih didominasi penangkapan dan penjualan ikan dalam kondisi segar.

Ketika pasokan meningkat, posisi tawar nelayan cenderung melemah karena pemasaran hasil tangkapan masih banyak bergantung pada pengepul lokal.

"Di sinilah diversifikasi menjadi kata kunci. Nelayan tidak lagi diarahkan hanya untuk menjual ikan sebagai bahan mentah. Sebagian hasil tangkapan bernilai ekonomi rendah didorong untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih baik," cetus Shofwan, Senin (12/10/2026).

Ia menegaskan, program tersebut tidak sekadar memberikan peralatan kepada nelayan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk mengolah potensi perikanan menjadi kegiatan ekonomi yang lebih bernilai dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan melalui sosialisasi dan pelatihan adalah teknologi tepat guna berupa mesin pembuat pelet ikan dan pakan ayam.

Teknologi tersebut diharapkan menjadi solusi ketika hasil tangkapan melimpah dan tidak seluruhnya terserap pasar konsumsi.

Ikan bernilai ekonomi rendah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet sehingga tidak hanya dijual sebagai komoditas segar yang harganya rentan turun saat pasokan berlebih.

Program ini menargetkan penurunan kehilangan hasil pascapanen sebesar 40–70 persen. Selain itu, kelompok nelayan diharapkan mampu mengembangkan sedikitnya dua jenis produk olahan yang siap dipasarkan.

Pendampingan tidak berhenti pada penyediaan peralatan. Masyarakat juga mendapatkan sosialisasi, pelatihan, praktik, demonstrasi teknologi, pendampingan produksi dan pengemasan, hingga penguatan manajemen usaha.

Materi pelatihan mencakup pemilihan bahan baku, penanganan ikan, kebersihan proses produksi, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pelabelan, pemasaran, hingga penguatan kelembagaan kelompok.

Karena itu, masyarakat dilibatkan sejak tahap identifikasi kebutuhan. Nelayan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi juga ikut menentukan jenis produk, bentuk teknologi, mekanisme pengolahan, hingga strategi pengembangan usaha.

"Kelompok nelayan selama ini memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir, tetapi perannya masih perlu diperkuat agar tidak berhenti sebagai wadah kegiatan perikanan tangkap," jelas Shofwan.

Program tersebut turut menargetkan sedikitnya 70 persen anggota nelayan aktif memahami pencatatan keuangan.

Selain itu, kelompok diharapkan dapat membuka minimal dua saluran pasar alternatif melalui penguatan pemasaran dan branding produk.

Shofwan menambahkan, teknologi tepat guna menjadi pintu masuk program, pelatihan memperkuat keterampilan, kelembagaan menjadi fondasi, sedangkan pemasaran menjadi kunci agar produk yang dihasilkan benar-benar memberikan nilai ekonomi.

Tim pelaksana menyiapkan tahapan lanjutan berupa instalasi dan uji coba teknologi, pelatihan, praktik pengolahan, pendampingan, pengembangan diversifikasi produk, penguatan kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi. (sta/van)