14 Penghuni Rehabilitasi Narkoba di Surabaya Kabur, BNN Jatim Lakukan Evaluasi

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sebanyak 14 warga binaan rehabilitasi narkoba dilaporkan kabur dari Rumah Sehat Emas atau Omah Sehat Bersih Bersinar di Jalan Pucang Alun-Alun, Kecamatan Gubeng, pada Senin (12/10/2026) sore. 

Dari total 30 warga binaan yang menjalani rehabilitasi di sana, 14 orang dilaporkan meninggalkan tempat rehabilitasi secara bersamaan. Peristiwa itu turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sekitar. 

Rumah rehabilitasi yang berdiri sekitar setahun lalu itu berada dalam kawasan permukiman padat penduduk di Kelurahan Kertajaya. Erwin Santuso selaku ketua RT setempat mengaku pertama kali mendapat informasi dari warga yang melihat sejumlah warga binaan keluar dengan cara melompati pagar.

"Untuk kaburnya warga rehab narkoba yang ada di rumah itu memang benar, saya awal dikabari oleh ibu Herry selaku tetangga samping rumah rehabilitasi narkoba. Bahwa pada saat itu ada setidaknya puluhan orang keluar dari rumah tersebut dengan meloncat dari pagar sisi kiri," ujarnya, Rabu (14/10/2026).

Sebelum kejadian, ia mengatakan warga sekitar beberapa kali menyampaikan keluhan terkait aktivitas di rumah rehabilitasi tersebut. Keluhan yang disampaikan antara lain mengenai kebisingan yang kerap terdengar dari dalam bangunan.

"Sebenarnya sebelum kejadian kaburnya warga binaan, pihak tetangga juga kerap melaporkan akan kegaduhan yang terjadi di rumah rehab tersebut. Kalau malam atau siang hari terdapat kebisingan suara bernyanyi beserta alat musik," paparnya.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi BNN Jawa Timur, Singgih Widi Pratomo, membenarkan adanya peristiwa kaburnya warga binaan dari tempat rehabilitasi di Gubeng. Ia mengatakan, dari 30 warga binaan yang menjalani rehabilitasi, sebanyak 14 orang dilaporkan melarikan diri.

"Dari informasi benar ada 14 warga binaan yang kabur, total warga binaan yang ada di tempat tersebut ada 30 orang. Dari kaburnya warga binaan sehingga ada dua petugas yang berjaga menjadi korban pemukulan," katanya.

Menurut dia, kejadian itu diduga bermula saat jumlah petugas yang berjaga berkurang. Pada saat bersamaan muncul protes dari sebagian warga binaan terkait kondisi di dalam tempat rehabilitasi.

"Jadi kaburnya warga binaan, bermula adanya protes akan fasilitas dan kemungkinan ada provokator. Diketahui petugas jaga berkurang sehingga 14 warga binaan kesempatan melakukan perlawanan dan kabur," ucapnya.

Terkait isu yang berkembang mengenai kepadatan hunian, kelayakan fasilitas, hingga kualitas makanan yang dikonsumsi warga binaan, pihaknya menyatakan masih melakukan penelusuran dan evaluasi. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada ketentuan SNI 8807/2022 mengenai sarana dan prasarana rehabilitasi.

"Memang bila dilihat dari ukuran gedung atau rumah yang kurang layak masih kita survei ulang. Karena menurut aturan SNI 8807 tahun 2022 tentang sarana dan prasarana apakah memang tempat rehab ditempat itu layak bila warga binaan ada 30 orang masih kita pertimbangkan," ungkapnya.

Singgih menjelaskan, standar rehabilitasi juga mengatur kapasitas kamar dan tempat tidur bagi warga binaan. Selain itu, aspek konsumsi menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan selama mengikuti program rehabilitasi.

"Jadi untuk makanan memang selayaknya harus bergizi, kenapa begitu? Karena makanan yang diberikan mendukung program rehabilitasi para warga binaan. Semakin makanan itu baik semakin bermanfaat agar warga binaan menerima program rehabilitasi secara maksimal," paparnya.

BNNP Jawa Timur menyatakan akan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh aspek pelayanan rehabilitasi di lokasi tersebut. Jika ditemukan ketidaksesuaian terhadap standar operasional yang berlaku, maka akan dilakukan kajian lanjutan dan langkah tindak lanjut sesuai ketentuan.

"Tetap akan kita lakukan pemantauan dan penilaian ulang dari isu yang beredar di media sosial, dan kita juga menunggu keterangan dari para warga binaan yang kabur tentang isu itu. Bila alasan para warga binaan nekat kabur dikarenakan tentang makanan dan sarana yang tidak manusiawi maka kami ambil sikap tegas," pungkasnya. (rus/mar)