BANGSAONLINE.com - BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlangsung hingga awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Radjab, mengatakan bahwa El Nino saat ini masih aktif dengan indeks anomali suhu mencapai positif 3,7. Nilai tersebut menunjukkan bahwa fenomena El Nino berada dalam kategori sangat kuat.
“Seperti telah kami sampaikan di awal tahun 2026, yaitu di bulan Maret bahwa musim kemarau kita tahun ini akan berbarengan dengan aktifnya fenomena El Nino. Sampai saat ini El Nino masih aktif, sehingga indeks anomali suhunya itu positif 3.7, artinya ini sangat kuat,” ujarnya pada Rabu (14/10/2026).
Menurut dia, peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi iklim di Indonesia. Dampaknya antara lain berupa penurunan curah hujan yang dapat memperparah kekeringan di sejumlah daerah.
Kendati demikian, BMKG menegaskan keberadaan El Nino tidak menghilangkan siklus musim hujan dan musim kemarau di Indonesia. Kedua musim tersebut tetap terjadi, meskipun pola dan intensitas curah hujan dapat mengalami perubahan akibat pengaruh El Nino.
“Jadi musim kemarau ataupun musim hujan akan selalu terjadi di Indonesia. Tidak dipengaruhi ada atau tidak adanya El Nino,” kata Fachry.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki periode curah hujan yang lebih tinggi pada Desember 2026. Namun, pola musim hujan diperkirakan berbeda di setiap wilayah, terutama di kawasan Indonesia bagian timur.
Untuk wilayah Maluku dan Papua, puncak musim hujan diperkirakan terjadi sekitar Mei 2027. Sementara sebagian besar wilayah Indonesia lainnya diprediksi mengalami puncak musim hujan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027.
BMKG juga mencatat sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan dibanding kondisi normal. Meskipun demikian, puncak musim hujan diprediksi tetap berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari.
“Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama. Artinya puncak musim hujan akan tetap terjadi di Desember, Januari, Februari, namun perlu waspada ketika musim hujan langsung puncak,” ucap Fachry.
Ia mengingatkan perubahan pola musim tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah. Masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir, banjir bandang, dan tanah longsor saat curah hujan mulai meningkat pada akhir tahun hingga awal 2027. (rom)










