SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) menjelaskan bahwa pengolahan limbah di tengah potensi pertanian masih menjadi tantangan di Suela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Oleh sebab itu, TEP menyulap limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG).
Ketua TEP, Grasianto, menjelaskan bahwa teknologi ini sejalan dengan kondisi masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian.
Pusat aktivitas masyarakat pada sektor pertanian itu akhirnya menghasilkan berbagai limbah biomassa seperti tongkol jagung, sekam padi, hingga batang tembakau. Jika tidak terolah dengan baik, limbah akan memicu permasalahan lingkungan hingga menghilangkan peluang ekonomi dari pemanfaatan limbah.
Grasianto menerangkan, pengolahan bahan organik tersebut nantinya akan melalui proses pirolisis. Biomassa pertanian akan dipanaskan dalam kondisi oksigen yang terbatas.
“Hasilnya berupa biochar itu sendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus alternatif pemanfaatan limbah ke dalam sistem pertanian yang lebih produktif,” jelasnya, Kamis (15/10/2026).
Untuk mengoptimalkan hasil, TEP juga melakukan uji coba alat dengan berbagai variasi bahan baku biomassa, durasi, hingga suhu pembakaran. Hasilnya menunjukkan bahwa pada variasi bahan baku tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan waktu 3-4 jam dengan suhu sekitar 200-250 derajat celcius.
Namun dalam prosesnya, lanjut Grasianto, timnya menemukan bahwa perlu dilakukan pemantapan proses pirolisis agar suhu pemanasan lebih merata. Langkah tersebut menjadi prioritas guna menjaga kualitas biochar yang dihasilkan bisa lebih konsisten.
Ia juga mengungkapkan bahwa transfer ilmu terkait pengoperasian alat bagi masyarakat setempat masih berlangsung hingga akhirnya masyarakat mampu mengolah limbah secara mandiri.
“Selain teknologinya, kami berikan pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan modul pengolahannya yang digunakan untuk implementasi dan replikasi kegiatan,” tuturnya.
Tak berhenti di situ, tim juga menyusun dokumen pendukung untuk pengembangan program lebih lanjut yang meliputi data dan kajian pemanfaatan limbah pertanian. Selain itu, turut disertakan strategi pengembangan usaha hingga pemasaran agar nantinya warga mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari biochar yang diolah.
“Karena saat ini, kami memprioritaskan penyediaan teknologi, transfer pengetahuan dan keterampilan sebagai fondasi pengembangan selanjutnya,” imbuh Grasianto.
Guna menjaga keberlanjutan pengembangan yang sudah ada, tim ITS ini menjalin kerja sama dengan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Suela. Melalui sinergi itu, Grasianto berharap agar UPT tersebut dapat melakukan pendampingan terhadap kelompok tani sekaligus mengevaluasi pengembangan setelah tim menuntaskan penugasan. (msn)










