BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Lebih dari sekadar destinasi wisata anyar, Geosite Kedung Lantung di Kabupaten Bojonegoro menjadi bukti nyata kolaborasi antara industri ekstraktif, akademisi, dan warga lokal. Sinergi ini berhasil mengemas jejak purba bumi menjadi sarana edukasi sekaligus penggerak ekonomi hijau bagi masyarakat setempat.
Daya tarik utama Geosite Kedung Lantung yang berlokasi di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro, adalah fenomena rembesan minyak bumi alami di sepanjang aliran Sungai Borik. Berada di kawasan Zona Kendeng dengan tema Petroleum and Gas System on Land, kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi geowisata yang memadukan pendidikan geologi, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi warga.
Peluncuran resmi Geosite Kedung Lantung dilakukan oleh Asisten Administrasi Umum Pemkab Bojonegoro, Mahmudin, yang hadir mewakili Bupati Setyo Wahono, bersamaan dengan pembukaan Festival Lantung 2026 pada Sabtu (17/10/2026).
Dalam sambutannya, Mahmudin mengapresiasi kerja sama seluruh pihak yang telah mendorong pembangunan fisik kawasan hingga mencapai 70 persen. Ia menegaskan bahwa pengembangan geosite ini sangat penting untuk mendukung langkah Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Namun, ia mengingatkan agar pengelolaan kawasan tetap mempertahankan nilai ilmiah dan kelestarian alam, bukan hanya berfokus pada wisata.
“Peluncuran hari ini adalah langkah besar kita bersama menuju pengakuan dunia sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Kami berpesan agar kawasan ini dikelola dengan konsep geowisata yang pintar dan berkelanjutan, bukan wisata massal,” ujar Mahmudin.
Pemkab Bojonegoro memfokuskan pengembangan Kedung Lantung pada tiga pilar utama. Yakni pilar edukasi, menjadikan kawasan sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan generasi muda untuk mempelajari proses pembentukan energi dan fenomena geologi.
Kemudian konservasi, dengan mengedukasi warga untuk menjaga kebersihan sungai serta kelestarian ekosistem sekitar. Serta pilar ekonomi dengan mendorong peluang usaha warga, mulai dari UMKM, warung, homestay, hingga pelatihan pemuda lokal sebagai pemandu geowisata (geoguide).
Dukungan pengembangan kawasan ini juga mengalir dari sektor industri migas. Community Relations Supervisor ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Rifky Romadhon, menjelaskan bahwa EMCL bersama SKK Migas tidak hanya membangun infrastruktur fisik—seperti fasilitas MCK, pagar, dan menara pantau—tetapi juga melengkapi area dengan papan edukasi sejarah.
“Penyediaan papan informasi sejarah juga menjadi perhatian agar pengunjung dapat memahami nilai ilmiah dan sejarah kawasan,” katanya.
Sementara itu, Analis Senior SKK Migas Perwakilan Jabanusa, Erwin Andrianto Reddy, menambahkan bahwa keterlibatan industri hulu migas dalam proyek ini merupakan komitmen nyata untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis masyarakat di samping menjaga ketahanan energi nasional.
Pengembangan Geosite Kedung Lantung sendiri merupakan hasil kolaborasi multipihak yang melibatkan warga Desa Drenges, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), komunitas Bojonegoro History, serta dukungan Program Tanggung Jawab Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dari EMCL dan SKK Migas Perwakilan Jabanusa. (jku/rev)










