Stunting di Kota Pasuruan Turun Jadi 8,2 Persen, 529 Balita Jadi Sasaran Grebek Tahap II

KOTA PASURUAN,BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kota Pasuruan melanjutkan program percepatan penurunan stunting melalui Kick-off Grebek Stunting Tahap II yang dibuka Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi di Ruang UNSUR, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan Pemkot Pasuruan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dan menjangkau balita yang membutuhkan intervensi gizi.

Dalam arahannya, Nawawi menegaskan pentingnya komitmen seluruh perangkat daerah, camat, dan lurah untuk menyukseskan pelaksanaan Grebek Stunting Tahap II.

“Penanganan stunting membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pihak. Saya berharap seluruh perangkatdaerah, camat, dan lurah dapat berperan aktif menyukseskan Grebek Stunting Tahap II,” tegas Mas Nawawi.

Nawawi juga menyoroti stigma di masyarakat yang menganggap stunting pada anak sebagai aib.

Menurutnya, pandangan tersebut dapat membuat orang tua enggan terbuka mengenai kondisi anak sehingga menghambat upaya penanganan dan pemenuhan kebutuhan gizi.

“Jangan sampai stunting dianggap sebagai aib. Kita harus mengedukasi masyarakat agar orang tua tidak merasa malu atau takut untuk terbuka. Yang terpenting adalah bagaimana anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan penanganan yang dibutuhkan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa program Grebek Stunting harus berfokus pada edukasi pola hidup sehat, pemenuhan gizi, serta penanganan hambatan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Terkait pendataan dan penjangkauan di lapangan, Nawawi mengimbau camat, lurah, pengurus RT/RW, dan kader posyandu untuk aktif menyampaikan informasi serta menjangkau keluarga di wilayah masing-masing.

Ia mengingatkan bahwa selain 529 balita yang telah tercatat sebagai sasaran, masih ada kemungkinan balita lain yang membutuhkan bantuan tetapi belum terdata atau terjangkau.

“Jangan hanya terpaku pada 529 balita yang sudah masuk data. Kita perlu memastikan apakah masih ada balita lain yang membutuhkan bantuan, tetapi belum terjangkau. Karena itu, peran camat, lurah, RT/RW, dan kader posyandu sangat penting,” jelasnya.

Nawawi juga meminta petugas menyesuaikan strategi penjangkauan dengan kondisi masyarakat.

Bagi orang tua yang sulit ditemui pada pagi atau siang hari karena bekerja, penjangkauan pada malam hari dapat menjadi alternatif.

“Kalau orang tua bekerja pada pagi atau siang hari sehingga sulit ditemui, penjangkauan bisa dilakukan pada malam hari. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi warga agar keluarga yang membutuhkan tetap bisa dijangkau,” ungkap Nawawi.

Lebih lanjut, Nawawi menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Kota Pasuruan turun dari 9,71 persen menjadi 8,2 persen.

Meski demikian, capaian tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam membawa balita ke posyandu atau puskesmas.

Pasalnya, cakupan penimbangan balita yang diukur melalui indikator D/S mengalami penurunan dari 76,3 persen pada Februari menjadi 72,3 persen pada Agustus.

“Penurunan prevalensi stunting harus kita pertahankan dan tingkatkan. Namun, kita juga perlu memperhatikan cakupan penimbangan balita yang menurun. Saya meminta camat dan lurah untuk aktif menggerakkan masyarakat agar rutin membawa balitanya ke posyandu maupun puskesmas,” tegasnya. (afa/van)