BANGSAONLINE.com - Fenomena hujan meteor Orionid diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 21 hingga 22 Oktober 2026. Peristiwa astronomi tahunan ini terjadi saat Bumi melintasi bagian terpadat dari jalur debu yang ditinggalkan Komet Halley, sehingga memunculkan kilatan cahaya meteor di langit malam.
Dalam kondisi cuaca cerah dan minim polusi cahaya, pengamat berpeluang menyaksikan sekitar 10 hingga 20 meteor setiap jam. Orionid dikenal sebagai salah satu hujan meteor yang rutin terjadi setiap tahun dan menjadi daya tarik bagi pengamat astronomi di berbagai belahan dunia.
Waktu terbaik untuk mengamati fenomena tersebut diperkirakan berlangsung setelah tengah malam hingga menjelang fajar pada 22 Oktober 2026. Namun, keberadaan Bulan pada fase cembung membesar dengan tingkat pencahayaan sekitar 74 persen berpotensi mengurangi visibilitas meteor yang memiliki cahaya lebih redup.
Kendati demikian, peluang pengamatan diperkirakan meningkat setelah Bulan terbenam beberapa jam setelah tengah malam. Kondisi langit yang lebih gelap memungkinkan lebih banyak meteor terlihat oleh pengamat.
Secara visual, meteor Orionid tampak berasal dari area langit di sekitar bintang Betelgeuse dalam rasi Orion. Untuk memperoleh pengalaman pengamatan yang lebih optimal, masyarakat disarankan memilih lokasi yang jauh dari pencahayaan perkotaan.
Selain memilih lokasi yang minim polusi cahaya, pengamat juga dianjurkan mengarahkan pandangan sekitar 40 hingga 90 derajat dari titik kemunculan meteor. Mata memerlukan waktu sekitar 20-30 menit untuk beradaptasi dengan kondisi gelap sehingga pengamatan dapat berlangsung lebih maksimal.
Hujan meteor Orionid terjadi ketika Bumi melintasi aliran partikel yang ditinggalkan Komet Halley di sepanjang orbitnya. Komet tersebut terakhir kali memasuki wilayah dalam Tata Surya pada 1986 dan meninggalkan jejak debu yang masih dapat berinteraksi dengan atmosfer Bumi hingga saat ini.
Saat partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 237 ribu kilometer per jam, gesekan yang terjadi menyebabkan partikel memanas dan terbakar. Proses inilah yang menghasilkan kilatan cahaya yang terlihat sebagai meteor di langit malam.
Fenomena Orionid 2026 menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati salah satu peristiwa astronomi tahunan sekaligus mempelajari lebih jauh dinamika Tata Surya dan jejak Komet Halley yang masih dapat diamati dari Bumi. (rom)










