Bukan Cuma Soal Pohon dan Sampah, Greenpeace Sebut Krisis Iklim Efeknya Sampai ke Isi Dompet

BANGSAONLINE.com – Krisis iklim menjadi hal yang paling disorot saat ini. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di mana-mana, penggundulan hutan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, hingga sampah yang tidak terolah dengan baik.

Menimpali hal tersebut, Greenpeace Indonesia menyebut bahwa persoalan krisis iklim bukan cuma soal kerusakan lingkungan, melainkan efeknya hingga ke isi dompet dan meja makan.

“Pada September 2026, harga beras eceran berada di level tertinggi, menurut data BPS yang dikutip Reuters,” ungkap salah satu aktivis Greenpeace dalam postingan Instagram akun resmi Greenpeace, dikutip Selasa (20/10/2026).

Menurut aktivis tersebut, di tengah bencana el nino yang bertepatan dengan musim tanam dan panen ini, akan berdampak ke ketahanan pangan dan daya beli masyarakat.

“Mungkin tidak semua orang merasakan, tapi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kenaikan ini bisa mengurangi porsi makan atau mengorbankan kebutuhan lainnya,” ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut bisa terjadi karena ketika alam dieksploitasi demi keuntungan sepihak, masyarakat luaslah yang harus menanggung dampaknya, hingga terpaksa harus terjerumus dalam berbagai kriminalitas, mulai dari mencuri, hingga penjarahan semi memenuhi kebutuhan hidup.

“Karena mereka yang paling rentan sering kali menanggung beban paling berat. Krisis iklim tidak hanya sebatas kerusakan lingkungan, tapi juga soal siapa yang untung dan siapa yang menanggung kerugian,” tuturnya.