TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com – Sebelum menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Purwanti, warga Tulungagung mengaku sempat kesulitan berobat karena kondisi perekonomiannya saat itu.
Namun, hal tersebut kini telah teratasi setelah ia terdaftar sebagai peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI).
“Awal sakit, saya belum punya JKN, berobat ke dokter bayar sendiri. Kondisi ekonomi yang kekurangan bagi saya berat setiap bulan harus bayar untuk periksa ke dokter dan beli obat. Tapi sekarang, sejak sudah punya JKN, saya tidak kesulitan lagi. Tiap bulan berobat tidak perlu membayar,” papar Purwanti saat ditemui di rumah sakit pada Rabu (14/102026).
Gangguan kesehatan Purwanti bermula ketika tangan dan kakinya tiba-tiba terasa berat hingga membuatnya kesulitan berjalan. Kondisi itu bahkan membuatnya sempat terjatuh, aktivitas terganggu, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu bekerja untuk mencari penghasilan.
Saat memeriksakan diri ke dokter, Purwanti diketahui mengalami hipertensi. Karena keluhannya cukup mengganggu, ia kemudian menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebelum mendapatkan rujukan ke rumah sakit untuk berobat ke dokter spesialis saraf.
“Waktu itu, saya ketahuan sakit hipertensi saat periksa di dokter. Karena kaki rasanya sulit buat berjalan dan sangat berat, bahkan sempat beberapa kali jatuh. Karena kondisi itu, saya memutuskan tidak lagi bekerja. Sejak punya JKN, saya bahkan bisa berobat ke dokter saraf di rumah sakit dengan proses yang sangat mudah. Dari puskesmas diperiksa dokter kemudian dirujuk ke rumah sakit,” ceritanya.
Bagi Purwanti, menjalani pengobatan secara teratur menjadi hal penting agar kondisi kesehatannya tetap terpantau. Melalui pemeriksaan rutin setiap bulan, ia dapat berkonsultasi dengan dokter, menyampaikan keluhan, serta mendapatkan obat sesuai kebutuhan pengobatannya.
Ia juga merasakan kemudahan dalam mengakses layanan JKN. Menurutnya, status sebagai peserta PBI tidak membuatnya merasa dibedakan dari pasien lain. Proses administrasi yang sederhana turut membantunya menjalani pengobatan secara berkelanjutan.
“Saya sangat terbantu dengan JKN, meskipun sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) tetap mendapatkan pelayanan yang sama dengan pasien lainnya. Setiap berobat selalu diberikan obat untuk kebutuhan satu bulan. Semuanya sangat mudah dan proses administrasi tidak berbelit-belit,” ungkapnya.
Seiring pengobatan yang dijalani secara rutin, Purwanti merasakan kondisi kesehatannya semakin membaik. Tekanan darahnya cenderung stabil dan lebih terkontrol sehingga ia dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Selain mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, Purwanti juga mendapatkan saran untuk menjaga pola makan dan melakukan olahraga ringan di rumah. Ia berupaya mengikuti anjuran tersebut agar kondisi kesehatannya tetap terjaga.
“Di poli saraf, dokternya tidak hanya memeriksa saja. Saya dianjurkan untuk menjaga asupan makanan dan melakukan olahraga ringan di rumah. Selain itu, karena rutin minum obat-obatan JKN yang sangat berkualitas. Setiap bulan saya dapat banyak obat yang harus saya minum, kalau beli sendiri pasti berat buat saya dengan kondisi ekonomi yang seperti ini,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi, keberadaan JKN membuat Purwanti bisa lebih tenang menjalani pengobatan yang dibutuhkannya. Ia tidak lagi harus menanggung sendiri biaya pemeriksaan dan obat-obatan setiap bulan seperti sebelum menjadi peserta.
Kemudahan layanan juga dirasakannya melalui Aplikasi Mobile JKN. Kini, Purwanti bisa mengambil nomor antrean secara daring sebelum datang ke rumah sakit. Dengan begitu, ia dapat memperkirakan waktu kedatangan tanpa harus datang sejak pagi hanya untuk mengantre.
“Sekarang kalau berobat lebih mudah, ambil nomor antrean lewat Mobile JKN. Kalau sudah daftar dari Mobile JKN, tinggal diperkirakan jam berapa datang ke rumah sakit. Tidak perlu lagi pagi-pagi harus ambil nomor antrean dan menunggu lama. Semoga JKN terus hadir untuk menjamin kesehatan masyarakat,” tutupnya. (fer/msn)










