Dari Bojonegoro untuk Jawa: Denyut Gas JTB, Energi yang Menjaga

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Saat malam tiba di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, pendar merah di langit pelosok desa menjadi penanda sebuah geliat besar dari perut bumi. Suar flaring (pembakaran gas sisa) tampak di kejauhan, bersanding dengan gagahnya menara rig setinggi 47 meter yang berdiri tegak di Desa Bandungrejo.

Di sinilah Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) beroperasi. Sejak titik aliran gas pertama first gas mengucur pada 20 September 2022, fasilitas yang dikelola Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 ini telah bertransformasi menjadi salah satu penjaga benteng ketahanan energi nasional.

Dengan kapasitas penyaluran mencapai 192 MMSCFD, cadangan sebesar 2,5 TCF, serta produksi kondensat 2,800 BCPD, JTB menopang sekitar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan gas di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menembus Kerumitan Geologi: Teknologi Berbentuk 'S' dan 'J'

Mengambil lokasi operasi di tengah kawasan pemukiman padat dan keterbatasan lahan di Pulau Jawa, proses eksplorasi JTB mengharuskan tim teknis menempuh jalan yang tak biasa. Lubang sumur yang dibor tidak dibuat lurus secara vertikal. Tim JTB menerapkan metode directional dan horizontal drilling dengan desain sumur berbentuk tipe 'S' atau 'J'.

Metode ini dipastikan dapat menjangkau target reservoir di bawah permukaan tanpa harus membebaskan lahan luas.

Hingga kini, JTB telah menuntaskan 5 sumur pemboran dan 1 sumur re-entry utama dengan kedalaman bervariasi antara 6.600 hingga 10.000 kaki. Kendati demikian, menembus perut bumi Jawa bukanlah perkara mudah. Kompleksitas geologi menjadi tantangan harian yang harus ditaklukkan.

Berbeda dengan karakteristik geologi Kalimantan atau Sumatera, tanah lempung di Jawa memiliki sifat reaktif yang tinggi. Jika terpapar air, tanah akan mengalami swelling yang berisiko menjepit pipa bor.

Tantangan tak berhenti di situ. Secara alami, minyak dan gas bumi terdorong ke permukaan oleh tekanan alami reservoir. Namun seiring berjalannya waktu, tekanan tersebut berpotensi menurun hingga tak lagi mampu mendorong likuid naik ke atas.

Namun seiring waktu, tekanan alami reservoir berpotensi menurun sehingga tidak mampu mendorong likuid naik ke permukaan. Ini adalah tantangan di dunia migas.

Menjawab tantangan tersebut, JTB menyiapkan berbagai mitigasi teknologi, mulai dari penerapan gas lift, pompa ESP (minyak & air), hingga optimalisasi sistem pemisahan di gas processing facilities (GPF). Langkah ini memastikan aliran gas tetap stabil dan andal kendati terdapat kandungan air maupun kondensat.

Tulang Punggung Energi di Jawa

Melalui bentangan pipa transmisi Gresik-Semarang, gas bersumber dari Desa Bandungrejo ini dialirkan untuk menghidupkan berbagai sektor krusial: mulai dari pembangkit listrik, industri pupuk, hingga kebutuhan harian masyarakat.

“Saat ini, kontribusi JTB menyumbang sekitar 20 sampai 25% dari total kebutuhan gas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga JTB menjadi tulang punggung energi krusial di Jawa,” ungkap Manager Communication Relations & CID, Rahmat Drajat.

Berdasarkan data per Agustus 2026, produksi raw gas JTB mencatatkan angka 298,24 MMSCFD, melampaui target Work Program & Budget (WP&B) 2026. Sementara realisasi sales gas mencapai 176,95 MMSCFD, sekitar 5 persen di atas rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) dan 9 persen di atas WP&B, dengan rata-rata year-to-date berada di angka 151,55 MMSCFD.

Rahmat Drajat memaparkan bahwa JTB berperan sebagai pemasok utama PGN di wilayah Sales & Operation Region (SOR) III, memenuhi hingga 65 persen kebutuhan gas di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dampak JTB menyentuh langsung kehidupan masyarakat bawah. Sebanyak 0,15 MMSCFD gas dialirkan untuk jaringan gas (jargas) rumah tangga di Lamongan, serta 1,3 MMSCFD disalurkan untuk bahan bakar gas (BBG) di wilayah Jatim dan Jateng. Data PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) Area Bojonegoro hingga September 2026 mencatat sebanyak 16.082 sambungan rumah (SR) di Bojonegoro dan Lamongan telah menikmati aliran jargas ini.

Tak berhenti di situ, peluang pengembangan baru terus dibuka. “Juga sekitar 3,5 MMSCFD dalam waktu dekat disiapkan sebagai bahan baku LNG,” jelas Rahmat.

Dengan estimasi masa produksi yang diprediksi bertahan hingga 20 sampai 25 tahun ke depan, PEPC terus mengoptimalkan pencarian struktur baru melalui eksplorasi lanjutan di sekitar wilayah kerja guna menjaga ketahanan pasokan.

Di balik capaian tersebut, keandalan operasi dijaga ketat melalui pemeliharaan terencana, pemantauan fasilitas secara berkala, penerapan standar HSSE (Health, Safety, Security, and Environment), serta integrasi teknologi digital untuk pengambilan keputusan yang presisi dan efisien.

“Strategi operasional dijalankan dengan mempertimbangkan kebutuhan penyaluran gas, keandalan fasilitas, dan kebijakan pemerintah,” terangnya.

Jejak Hijau dan Transisi Berkelanjutan

Di tengah pengoperasian fasilitas migas skala besar, komitmen kelestarian lingkungan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sepanjang 2025, PEPC berhasil merealisasikan reduksi emisi sebesar 13,19 kiloton COâ‚‚e.

Salah satu inisiatif utamanya adalah program Biru Langit JTB, sebuah integrasi antara pengurangan emisi karbon, pengolahan limbah, serta konservasi hutan berbasis metode Agrosilvopastura di Bojonegoro. PEPC mengelola kawasan hutan seluas 17,71 hektare yang berdampingan dengan fasilitas utama JTB, dengan menanam 4.400 pohon keras dan 3.500 tanaman semak.

“Jejak hijau ini bahkan dimulai sejak fase proyek, PEPC menanam 25.000 pohon trembesi sejak 2018, dengan estimasi serapan sekitar 45.000 ton COâ‚‚,” paparnya.

Sektor pendidikan pun tak luput dari jangkauan program keberlanjutan. PEPC membangun hutan sekolah di SMPN 1 Ngasem dan SMPN 2 Purwosari yang kini telah berkembang menjadi arboretum dengan ketercapaian fisik 100 persen pada 2025. Program ini memberikan dampak langsung kepada 989 warga sekolah dan 20 keluarga penerima manfaat.

Gas bumi memegang peranan krusial sebagai energi transisi menuju era rendah karbon. Lewat keandalan pasokan dan keharmonian lingkungan yang dibangun dari Bojonegoro, JTB membuktikan bahwa pasokan energi bagi industri dan masyarakat dapat berjalan selaras dengan prinsip kelestarian bumi.