SURABAYA, BANGSAONLINE.com-KH Miftachul Akhyar, Rais Aam Syuriah PBNU, kembali menjadi perbincangan publik. Terutama di kalangan para kiai dan warga Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Miftah - panggilan sehari-hari Kiai Miftachul Akhyar – melafalkan ayat al Quran secara tidak benar. Kiai Miftah melompati banyak lafadz (kata) dalam Surat Al Baqarah.
Kini video yang berasal dari live di YouTube itu viral. Di bagian bawah video yang beredar tersebut tertulis running tex acara Haul Majemuk Masyayikh & Keluarga Besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur Rabu 28 Oktober 2026.
“Tak hafal,” ujar seorang kiai muda peserta acara Majemuk Haul tersebut sembari mengirimkan potongan video itu kepada BANGSAONLINE.
Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo itu mengirimkan potongan video itu kepada BANGSAONLINE pada Rabu 4 November 2026.
Saat melafalkan ayat al Baqarah itu Kiai Miftah tampak didampingi KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam Syuriah PBNU, dan sejumlah kiai. Peserta acara Majemuk Masyayikh tersebut juga membludak. Ribuan orang.
Kesalahan itu terjadi ketika Kiai Miftah melafalkan ayat-ayat pada surat al Baqarah di bawah ini.
الۤمّۤ ۚ ١ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ۙ ٢الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ ٣وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ۗ ٤
Tapi begitu sampai pada ٢الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ, Kiai Miftah langsung melompat pada lafadz بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ. Jadi Kiai Miftah melompati banyak lafadz atau kalimat berikut: بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ ٣وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ
Ini tentu sangat fatal. Karena arti dari ayat-ayat al Quran tersebut bukan hanya berubah tapi terpotong secara tak beraturan.
Banyak kiai NU dan bahkan warga NU heran. Kenapa itu bisa terjadi. Padahal ayat pada awal surat al Baqarah itu sangat popular. Sedemikian populernya sampai hampir semua warga NU atau bahkan anak kecil yang belajar mengaji hafal di luar kepala.
Apalagi ayat-ayat pada awal surat al Baqarah itu dibaca warga NU setiap habis shalat lima waktu. Yaitu bagian dari dzikir yang lasim dijadikan wirid. Selain jadi wirid, ayat-ayat tersebut juga bagian dari bacaan tahlil. Jadi warga NU umumnya hafal diluar kepala ayat-ayat tersebut
Peristiwa Kiai Miftah salah melafalkan ayat al Quran bukan kali pertama. Seperti diberitakan BANGSAONLINE, sebelumnya Kiai Miftah juga salah baca ayat Al Quran. Yaitu surah Al-Fath ayat 29.
Seperti kita saksikan dalam video yang beredar di media sosial, Kiai Miftach mengutip potongan Surah Al-Fath ayat 29. ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
Saat membaca atau melafalkan ayat tersebut Kiai Miftach sempat tersendat dan bahkan terkesan gagap.
Lebih fatal lagi, Kiai Miftach membaca ayat tersebut secara salah. Bahkan ada ayat yang terlompat sehingga ia terkesan tidak hafal dan tidak menguasai ayat yang dikutip atau dijadikan dalil.
Kata yang dilompati adalah فَاٰزَرَهٗ. Kiai Miftach membaca secara tebata-bata. Kemudian mengulang lagi. Tapi tetap melompati فَاٰزَرَهٗ.
Kiai Miftach juga membaca لِيَغِيْظَ dengan frasa lain. Lam atau li pada awal kata tersebut diganti fa’ atau fi. Sehingga mengubah arti atau maknanya.
Peristiwa itu terjadi saat Kiai Miftachul Akhyar menyampaikan pidato sambutan dalam acara Kick Off Hari Santri 2026 yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Jawa Timur pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Dan ini merupakan kesalahan kesekian kalinya dalam rentang waktu tiga bulan sejak acara Munas Alim Ulama dan Konbes NU 20–23 Juni 2026 hingga Muktamar ke-35 NU pada 27 – 31 Agustus 2026.
Sebelumnya, Kiai Miftach juga menjadi perbincangan publik karena salah dalam berbahasa Arab. Itu terjadi saat ia menyampaikan pidato pada acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Bangkalan, Jawa Timur. Saat itu Kiai Miftach menyebut tahun 1448 Hijriah dengan melafalkan “arba’ata ‘asyar … alfan … wa tsamaniyah … wa arba’in … hijriyan”.
Pidato Kiai Miftach itu langsung menuai kritik dari sejumlah pihak. Para pengeritk Kiai Miftach mengatakan bahwa secara gramatika Arab, ucapan tersebut berarti “empat belas ribu empat puluh delapan Hijriah” (14.048 H).
Menurut para pengeritik itu, seharusnya, sesuai kaidah ilmu nahwu dan tata cara bilangan ('adad), penyebutan tahun 1448 Hijriah yang tepat adalah tsamaniyah wa arba‘in wa arba‘imi’ah wa alf hijriyah.
Di media sosial saat itu tiba-tiba muncul anak perempuan kecil. Siswi Madrasah Tsanawiyah itu mengeritik kesalahan Bahasa Arab Kiai Miftach. Terutama dari segi gramatika Bahasa Arab.
Terlepas kemunculan anak perempuan kecil itu by setting atau natural, tapi yang jelas memang banyak kiai atau tokoh yang paham Bahasa Arab mengoreksi kemampuan Bahasa Arab Kiai Miftach.










