El Nino 2026 Ancam Krisis Pangan dan Kekeringan Global

Ringkasan Berita
  • Fenomena El Nino kuat tahun 2026 diprediksi sebagai yang terkuat dalam lebih dari satu abad, berpotensi mengubah pola cuaca global dan memperburuk dampak pemanasan global menurut peringatan PBB.
  • Dampaknya akan bervariasi secara global, menyebabkan kekeringan parah di Amerika Tengah, Asia, Afrika, dan Australia, sementara sebagian Amerika Selatan menghadapi hujan ekstrem dan banjir.
  • Krisis air dan pertanian mengancam, dengan Honduras sudah menetapkan darurat air; fenomena ini berisiko memicu gagal panen, krisis pangan global, dan kerugian ekonomi besar.
  • Risiko kebakaran hutan meningkat di wilayah seperti Australia, Kanada, dan Amazon, sementara aktivitas badai tropis akan melemah di Atlantik tetapi meningkat di Pasifik.
  • Suhu laut yang menghangat mengancam ekosistem laut seperti terumbu karang, dan perubahan iklim dapat memperparah dampak El Nino, membuat pemantauan serta mitigasi tepat waktu menjadi krusial.

BANGSAONLINE.com - Fenomena El Nino kuat diperkirakan segera terjadi dan berpotensi menjadi yang terkuat dalam lebih dari satu abad terakhir. Para ahli menyebut fenomena yang terbentuk di Samudra Pasifik ini dapat mengubah pola cuaca global dalam waktu dekat.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan kondisi El Nino akan muncul dan berlangsung hingga musim dingin. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut fenomena ini sebagai peringatan iklim serius yang dapat memperburuk pemanasan global.

El Nino terjadi ketika angin pasat di Samudra Pasifik melemah sehingga air hangat menumpuk di wilayah tersebut. Dampaknya dirasakan secara global, dengan sebagian negara mengalami kekeringan parah sementara wilayah lain menghadapi banjir besar. 

Kawasan Amerika Tengah, Asia, Afrika, dan Australia berisiko mengalami kondisi lebih kering, sementara sebagian wilayah Amerika Selatan diperkirakan terdampak hujan ekstrem dan banjir.

Di Honduras, sejumlah wilayah bahkan menetapkan status darurat air akibat kekeringan. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu pasokan air, pertanian, serta energi, dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar akibat gagal panen serta krisis pangan global.

Risiko kebakaran hutan juga diperkirakan meningkat di Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan hutan Amazon. Fenomena ini turut memengaruhi aktivitas badai tropis, dengan Atlantik diperkirakan mengalami musim badai lebih lemah, sementara wilayah Pasifik justru berpotensi mengalami peningkatan badai.

Selain itu, suhu laut yang meningkat dapat berdampak pada ekosistem laut, termasuk pemutihan terumbu karang. Para ilmuwan menegaskan perubahan iklim tidak secara langsung memperkuat El Nino, namun dapat memperburuk dampaknya. 

Atmosfer yang lebih hangat meningkatkan risiko hujan ekstrem sekaligus memperparah kekeringan. Pemantauan suhu laut dan atmosfer dinilai penting untuk membantu negara-negara melakukan langkah mitigasi tepat waktu guna mengurangi dampak terburuk fenomena ini. (rom)