Warga Hentikan Pembongkaran Tembok Dapur MBG di Klojen Kota Malang, Soroti Minimnya Komunikasi

Ringkasan Berita
  • Warga RT 12 RW 06 Sukoharjo, Klojen, Malang menghentikan pembongkaran tembok di Dapur MBG (Program Makan Bergizi Gratis) karena merasa tidak pernah diajak koordinasi atau sosialisasi terkait operasional dan pembangunan di fasilitas tersebut.
  • Kekhawatiran utama warga meliputi gangguan operasional (kebisingan, bau limbah) dan dugaan pintu samping baru akan digunakan untuk akses limbah, meski pengelola membantah dan menyatakan sudah memiliki IPAL.
  • Pengelola (Mitra SPPG) menyatakan telah berkoordinasi melalui perwakilan RT/RW dan pemilik rumah yang berdampingan, serta menegaskan pembongkaran dilakukan di area milik sendiri dengan pemberitahuan.
  • Inti masalah terletak pada kesenjangan komunikasi di lapangan. Warga merasa tidak dilibatkan, sementara pengelola menganggap komunikasi melalui perwakilan sudah cukup.
  • Kedua pihak terbuka untuk dialog lebih lanjut guna mencari solusi dan mencegah kesalahpahaman berlarut-larut terkait keberadaan dapur layanan gizi tersebut.
KOTA MALANG,BANGSAONLINE.com - Penolakan terhadap aktivitas pembangunan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Jagalan, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen kembali mencuat setelah warga menghentikan pembongkaran tembok di lokasi, Jumat (10/7/2026).
 
Aksi penghentian pembongkaran yang dilakukan warga RT 12 RW 06 itu merupakan bentuk protes atas minimnya komunikasi dari pengelola sejak dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai beroperasi.

Warga menilai operasional SPPG di kawasan permukiman berlangsung tanpa didahului sosialisasi maupun koordinasi dengan masyarakat yang terdampak. Selama ini, mereka mengaku hanya merasakan dampak aktivitas dapur tanpa pernah dilibatkan dalam pembahasan.

Ketua RT 12 RW 06, Jumali, membearkan hingga saat ini belum pernah ada pertemuan resmi antara pengelola SPPG dengan warga di lingkungannya.

"Kami warga RT 12 belum diajak koordinasi," ujar Jumali.

Keberatan warga memuncak ketika pengelola melakukan pembongkaran tembok di sisi bangunan untuk membuka akses pintu baru.

Menurut mereka, pekerjaan tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan maupun penjelasan terkait tujuan pembangunan.

Warga juga mempertanyakan urgensi pembangunan pintu samping karena bangunan SPPG telah memiliki pintu utama yang dinilai masih memadai untuk menunjang aktivitas distribusi.

Selain persoalan pembangunan, warga mengaku terganggu dengan aktivitas operasional dapur yang berlangsung hingga malam hari

Mereka menyebut suara relawan kerap menimbulkan kebisingan dan sesekali tercium aroma tidak sedap yang diduga berasal dari pengelolaan limbah dapur.

"Kami juga khawatir pintu samping itu nantinya digunakan untuk akses keluar masuk limbah karena letaknya langsung menghadap gang permukiman," ujar salah seorang warga.

Menanggapi keluhan tersebut, Mitra SPPG Dapur Jagalan, Hanan, membantah pihaknya tidak pernah menjalin komunikasi dengan lingkungan sekitar.

Ia menyatakan koordinasi telah dilakukan melalui perwakilan yayasan yang bertugas di lapangan, termasuk dengan pengurus RT dan RW setempat.

"Sudah ada PIC dari yayasan yang berkomunikasi dengan RT dan RW. Tidak mungkin semua warga satu kampung kami datangi satu per satu. Komunikasi dilakukan melalui perwakilan lingkungan," kata Hanan.

Terkait pembongkaran tembok, Hanan menjelaskan akses baru tersebut masih berada di area milik SPPG dan tidak menggunakan lahan milik warga.

Menurutnya, pemilik rumah yang berbatasan langsung dengan lokasi juga telah diberi pemberitahuan sebelum pekerjaan dimulai.

"Soal tembok itu merupakan tembok milik dapur, bukan tembok warga. Pemilik rumah yang berdampingan juga sudah kami beri tahu sebelumnya," ujarnya.

Hanan juga membantah dugaan bahwa pintu baru tersebut akan digunakan sebagai akses pembuangan limbah. Ia memastikan dapur SPPG telah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi dengan baik.

"Kalau soal IPAL aman. Saya justru melihat persoalan utamanya ada pada komunikasi di lapangan yang mungkin kurang maksimal saat pekerjaan pembongkaran dilakukan," ungkapnya.

Ia menegaskan pengelola SPPG terbuka untuk berdialog dengan warga guna mencari solusi bersama dan mencegah terjadinya kesalahpahaman.

"Kami siap berkomunikasi lagi dengan warga. Kalau memang ada yang perlu dijelaskan, tentu akan kami jelaskan agar persoalan ini tidak berkembang menjadi kesalahpahaman," pungkas Hanan. (dad/van)