Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 41. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
41. Alladzîna im makkannâhum fil-ardli aqâmush-shalâta wa âtawuz-zakâta wa amarû bil-ma‘rûfi wa nahau ‘anil-mungkar, wa lillâhi ‘âqibatul-umûr
(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kemantapan (hidup) di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.
TAFSIR
“Al-ladzin in makkahum fi al-ardl”. Orang-orang yang kami tempatkan di bumi, siapa mereka? Yang jelas bukan mereka yang hidup di luar orbit bumi sebagaimana dipapar sebelumnya.
Dikisahkan ada empat orang sahabat yang keluar dari daerah mereka sendiri karena kejahatan wong kafir yang mengerikan, seperti tertutur pada ayat kaji sebelumnya. Meskipun mereka berada di luar daerah sendiri dan tinggal di bumi yang ditempatkan Tuhan, mereka tetap aktif menjalankan shalat. Itulah orang beriman sejatinya.
Al-imam Abu al-Aliyah dan al-Hasan menuturkan, para sahabat, baik dari kalangan al-Anshar maupun al-Muhajirin, bahwa sifat iman mereka memang sekokoh itu, seperhatian itu terhadap perintah shalat. Kapan pun dan di mana pun. Inilah pesan pokok dari ayat kaji ini.
“Makkannahum fi al-ardl”, juga memotret kemenangan bagi umat islam ketika berperang melawan musuh kafir yang di luar daerahnya. Daerah taklukan itulah yang disebut “al-ardl”, bumi. Meskipun mereka berada jauh dari rumah, tetapi tetap saja menjalankan shalat secara bagus dan disiplin. Tempat, sama sekali bukan gangguan.
Tafsir klasik ini tentu tidak bisa dikaitkan dengan keberadaan orang beriman yang tinggal di planet bumi maupun yang di luar orbit bumi. Tidak membahas itu. Karena pesan ayat adalah shalat harus membumi secara pribadi, melekat pada setiap diri mukallaf.
Sedangkan perintah zakat, derma, dan dakwah bukanlah kewajiban bagi umumnya umat, melainkan hanya bagi yang punya amanah saja. Seperti penguasa wajib mensejahterakan rakyat dan para ulama sebagai garda depan yang wajib mencerahkan umat. Memberi nasihat agama dan seterusnya. Begitu penuturan Sahl ibn Abdillah.
Sisi lain memotret, bahwa terma “... al-ladzin in makkanhum fi al-ardl”. Kami tempatkan mereka di bumi adalah isyarat, bahwa planet bumi adalah planet yang paling layak huni bagi umat manusia. Tidak menutup temuan modern bahwa mungkin ada planet lain yang bisa dihuni manusia selain bumi, tetapi hingga kini, dari faktor cuaca, air, kondisi tanah, dan lain-lain di sono tidak selayak dan tidak senikmat di bumi.
“Wa Li Allah ‘aqibah al-umur”, hanya kepada Allah SWT saja segalanya bertumpu. Ya, karena hanya Dia saja yang Maha kuasa, karena hanya Dia saja yang maha mengerti, karena hanya Dia saja yang Maha Segalanya.
Penutup ayat ini berpesan, bahwa jika seseorang menikmati semua fasilitas bumi ini, maka mengertilah, ya beribadahlah kepada-Nya, minimal sebagai ucapan terima kasih. Menjadi sangat biadab bila menikmati kehidupan, tapi tak mengenal Tuhan.
Begitu pula bila seseorang hendak hidup di luar planet bumi, maka diperintahkan studi matang-matang lebih dahulu. Jangan sampai ada elemen yang tertinggal tak diperhitungkan. Karena akibatnya anda tanggung sendiri dan penyesalan tentu tiada arti.










