MOJOKERTO,BANGSAONLINE.com - Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat tak kuasa menahan air mata saat menutup Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Mojokerto, Senin (27/7/2026), ketika menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Konferensi yang digelar di kawasan wisata Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, itu diikuti sekitar 500 anggota komunitas sungai dari 15 provinsi.
Puncak kegiatan dihadiri langsung oleh Jumhur dengan rangkaian acara penanaman pohon, deklarasi komunitas sungai, serta dialog interaktif.
Di penghujung acara, Jumhur tiba-tiba menangis saat menyampaikan pidato penutupan. Dalam kesempatan itu, ia menyinggung program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menurutnya belakangan mendapat banyak kritik.
"Orang yang lapar dikasih makan, anda cerca, jangan dong, engga boleh. Sory saya kaya gini sangat sensitif karena saya tahu persis," kata Jumhur sambil menangis di atas panggung, Senin (27/7/2026).
Setelah itu, Jumhur melanjutkan pidatonya dengan menyinggung berbagai upaya pemerintah di bidang ekonomi yang menurutnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Termasuk di dunia pertambangan, di dunia sawit. Uang yang biasa nyolong dari penjualan, menipu under invoicing, itu akan dituntaskan. Jadi, ini sesuatu yang mulia. Saya ingin mengajak saudara-saudara menghancurkan yang mengganggu, termasuk orang-orang dalam pemerintahan yang mengganggu program itu, atau entah orang dari mana, tidak ingin kita berhasil," ujarnya.
Saat dimintai keterangan seusai acara, Jumhur menjelaskan alasan dirinya menangis.
Ia mengaku teringat hasil studi Asian Development Bank (ADB) bersama Bappenas pada periode 2016-2018 yang menyebut masih banyak masyarakat Indonesia mengalami kelaparan kronis.
"Saya tahu, orang miskin itu banyak di Indonesia. Tahun 2018, 2016, 17, 18 itu ADB bersama Bappenas bikin studi. Ada 22 juta orang kelaparan kronis. Kelaparan kronis itu tahu apa? Artinya dia tuh sudah siap mati untuk lapar. Dan mohon maaf ya, banyak budaya kita yang tidak berani mengungkapkan, akhirnya dia mati. Itu banyak budaya kita. Tidak berani melawan, gitu ya," jelasnya.
Menurut Jumhur, program MBG merupakan upaya pemerintah membantu masyarakat yang mengalami kelaparan kronis maupun kekurangan asupan gizi. Karena itu, ia menilai program tersebut tidak seharusnya menjadi sasaran kemarahan.
"Nah, bahwa orang-orang kelaparan kronis itu udah hancur banget, itu kaya udah stunting, tapi yang setengah kelaparan kronis kan ada juga. Yang tadi makannya mungkin seminggu cuman dua kali itu tiga kali. Tapi yang makannya 3 hari sekali atau 2 hari sekali juga ada, itu juga kurang makan juga. Itu mungkin bisa 50, 60, 70 juta orang. Dan itulah yang menjadi subjek bagi distribusi MBG sebetulnya," terangnya.
Jumhur menegaskan dirinya siap menghadapi pihak-pihak yang menentang program Makan Bergizi Gratis.
"Bahwa, ya, dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, itu bukan hanya urusan MBG, urusan mana pun banyak terjadi penyimpangan. Jadi sebetulnya, kita hajar penyimpangan penyimpangan itu, tapi programnya jangan. Kalau Anda menghardik program orang yang lapar diberi makan, anda berhadapan dengan saya," tandasnya.










