Oleh: Firman Syah Ali
Penulis adalah Wasekjen PB PMII/Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU
Kabupaten Pamekasan kini tengah berdenyut dalam suasana yang semakin meriah, hangat, dan penuh kekhusyukan. Menjelang perhelatan Haul Akbar II Bhuju' Agung Toronan, antusiasme masyarakat, khususnya para pemerhati sejarah, keluarga besar, santri, dan simpatisan terasa semakin memuncak. Spanduk, baliho, meme, flyer, undangan digital, hingga persiapan logistik dan pertemuan-pertemuan kultural bertebaran di berbagai sudut Toronan, mempersiapkan penyambutan puluhan ribu peziarah yang akan tumpah ruah demi mengukuhkan ikatan batin dengan sang leluhur.
Perhelatan ini bukan hanya agenda seremonial tahunan, melainkan sebuah momentum besar perjumpaan fisik, spiritual dan kultural yang sarat makna.
Secara etimologi, kata haul berasal dari bahasa Arab yang berarti genap satu tahun. Namun secara terminologis, haul bertransformasi menjadi sebuah institusi kultural-religius berupa peringatan hari wafatnya seseorang, biasanya ulama, umara, aulia, atau tokoh panutan, yang diselenggarakan setiap tahun untuk mengenang legacy, meneladani moral, serta mendoakan arwah mereka.
Sementara itu, kata Bhuju' merupakan istilah khas masyarakat Madura untuk menyebut leluhur suci, tokoh agama, atau tokoh masyarakat yang dikeramatkan dan dihormati karena jasa besar mereka dalam menyebarkan Islam, membimbing umat, serta membangun peradaban lokal.
Bhuju' Agung Toronan sendiri menempati posisi yang sangat mulia dalam peta sosio-historis Madura dan Nusantara. Beliau bukan hanya figur sentral tempat memohon keberkahan doa, melainkan bagian penting dari jaringan trah Wali Songo dan leluhur dari banyak tokoh nasional terkemuka serta pengasuh pesantren-pesantren besar di Indonesia. Jejak keturunan dan buah didikan spiritual dari garis keturunan ini telah melahirkan pilar-pilar penjaga keutuhan umat dan bangsa lintas generasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang kerap mengikis memori kolektif generasi muda, upaya melestarikan dan mengembangkan tradisi haul bhuju' menjadi sebuah keharusan yang mendesak.
Bagi para dzurriyah (keturunan). Tradisi ini berfungsi sebagai kompas genealogi yang menjaga agar silsilah tidak terputus di tengah jalan, atau tidak kepaten obor. Ia menjadi ruang temu silaturahmi keluarga besar yang sudah terdiaspora di berbagai penjuru dunia.
Bagi para santri dzurriyah dan simpatisan, haul adalah sarana tarbiyah ruhiyah untuk menyerap uswah hasanah dari sang leluhur. Melalui haul, nilai-nilai ketulusan, perjuangan, dan keilmuan ditanamkan kembali, memastikan estafet peradaban tidak kehilangan arah di tengah zaman yang kian disruptif.
Dalam pandangan Islam, berbakti kepada orang tua atau yang dikenal sebagai Birrul Walidain menempati kedudukan yang sangat tinggi setelah tauhid (keimanan kepada Allah SWT). Para ulama besar sepakat bahwa ridha Allah SWT sangat bergantung pada ridha kedua orang tua, dan berbakti kepada mereka adalah kunci pembuka pintu surga.
Namun, cakupan Birrul Walidain ternyata jauh lebih luas dari sekadar berbakti kepada ayah dan ibu kandung yang masih hidup. Para ulama menjelaskan bahwa kata walidain/kedua orang tua dalam arti luas dan vertikal mencakup pula para orang tua dari kedua orang tua kita, yakni kakek, nenek, moyang, hingga ajdad beberapa generasi ke atas yang telah menjadi jalan lahirnya garis keturunan kita ke dunia.
Menyelenggarakan haul, merawat makam, mengenang jasa, mendoakan, serta melestarikan ajaran para leluhur (Bhuju') adalah bentuk nyata dari Birrul Walidain lintas generasi. Ini adalah bukti bahwa cinta kasih dan rasa hormat anak cucu tidak terputus oleh batas kematian, melainkan terus hidup menembus ruang dan waktu.
Peringatan Haul Akbar II Bhuju' Agung Toronan di Pamekasan mengingatkan kita pada sebuah adagium universal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah para pahlawannya.
Maka, dengan semangat yang sama, dapat ditegaskan pula bahwa bani yang besar adalah bani yang senantiasa menghormati, merawat, dan mengembangkan sejarah para datuknya. Dengan merawat tradisi haul dan mengisinya dengan nilai-nilai kebajikan, kita tidak hanya sedang merawat pusara fisik para leluhur, tetapi juga sedang merawat dan menyapa masa depan peradaban kita sendiri.










