Pemerintah Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, bersama ribuan warga menggelar tradisi Rebo Wekasan 2026 selama lima hari, Sabtu-Rabu (8-12/8/2026).
Sekretaris Desa (Sekdes) Suci Mohammad Miftach menyampaikan, rangkaian Rebo Wekasan diawali dengan ziarah kubur ke makam sesepuh Desa Suci pada Sabtu (8/8/2026) mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan dilanjutkan dengan Khotmil Qur'an di Pendopo Balai Desa serta seluruh masjid dan musala di Desa Suci pada Minggu (9/8/2026) mulai pukul 05.00 WIB hingga selesai.
"Hari Senin 10 Agustus 2026, acara dilanjutkan Khotmil Qur'an di Masjid Mambaut Tho'at mulai pukul 05.00 WIB-selesai, diteruskan pukul 19.00 WIB-selesai Kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Balai Desa menuju Masjid Mambaut Tho'at," ujar Miftach, Kamis (12/8/2026).
Setelah rangkaian tersebut, lanjut Miftach, kegiatan Rebo Wekasan dilanjutkan dengan Pasar dan UMKM di Lapangan Desa Suci serta sepanjang Jalan KH Syafi'i Desa Suci.
Kegiatan juga diisi pembacaan Ratib di Masjid Mambaut Tho'at pada Selasa-Rabu (11-12/8/2026) mulai pukul 12.00 hingga 24.00 WIB.
"Tradisi Rebu Wekasan yang dilakukan .masyarakat Desa Suci berlangsung setiap Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam dan asal-usul Desa Suci," tuturnya.
Menurut Miftach, Rebo Wekasan Desa Suci atau Rabu Wekasan merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar.
Di Desa Suci, tradisi tersebut memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan Islam serta kisah penemuan sumber air yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan sejarah yang dimuat di laman resmi Pemerintah Desa Suci, kisah tersebut bermula pada masa Kanjeng Sunan Giri.
Ia memerintahkan muridnya, Syeikh Jamaludin Malik, untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah sebelah barat Giri.
Syeikh Jamaludin Malik kemudian mendirikan masjid yang digunakan sebagai tempat pendidikan sekaligus pesantren.
Jumlah santri yang datang semakin banyak sehingga kebutuhan air turut meningkat. Sementara itu, sumur yang tersedia saat itu belum mampu mencukupi kebutuhan.
Ia kemudian meminta petunjuk kepada Sunan Giri. Sang waliyullah mengarahkan Syeikh Jamaludin Malik berjalan ke arah utara hingga menemukan rerimbunan pepohonan. Di lokasi tersebut, ia menemukan sumber air yang jernih dan berlimpah.
Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Suci yang menjadi cikal bakal Desa Suci saat ini. Penemuan sumber air tersebut juga berkaitan dengan pelaksanaan Rebo Wekasan di Desa Suci.
Sunan Giri kemudian mengadakan ritual tahunan setiap Rabu terakhir atau Rebo Wekasan di masjid tersebut. Rangkaian kegiatan itu menjadi bentuk syukur atas penemuan sumber air sekaligus bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.
Pemerintah Desa Suci menyebut tradisi Rebo Wekasan telah berlangsung sejak 1483, pada masa Sunan Giri.
Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan diperkirakan menjadi Rebo Wekasan tertua di Tanah Jawa.
Hingga kini, Rebo Wekasan masih digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar. Rangkaian kegiatannya pun berkembang, tidak hanya berupa kegiatan keagamaan, tetapi juga kirab, kegiatan budaya, pasar rakyat, dan aktivitas UMKM.
Rebo Wekasan Desa Suci ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2025.
Berdasarkan data Disparekrafbudpora Gresik, tradisi tersebut masuk dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan-perayaan dengan lokasi persebaran di Desa Suci.
Rebo Wekasan menjadi satu dari lima karya budaya asal Gresik yang ditetapkan sebagai WBTb pada 2025, yakni Pasar Bandeng, Malam Selawe, Pencak Macan, dan Kupat Keteg. (hud/van)










