SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Direktur Sinergi Psikologi Surabaya Ida Ayu Putri Widiarini menilai orang tua perlu memberikan perhatian lebih kepada anak di tengah gencarnya penggunaan teknologi dan media sosial.
Hal tersebut disampaikan Ida berdasarkan pengamatannya terhadap pola asuh sejumlah orang tua yang dinilai kurang tepat, terutama kebiasaan memberikan gadget kepada anak agar tidak mengalami tantrum.
Ida mengatakan kebiasaan tersebut dapat menjadi awal persoalan yang berdampak terhadap kondisi psikologis anak.
“Jadi demi anaknya tenang kebanyakan para orang tua memberikan HP, dan itu banyak terjadi,” ungkap Ida, melansir RRI.
Menurutnya, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat memicu sejumlah dampak psikologis pada anak, di antaranya kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi.
“Nah dari kejadian itu kebanyakan orang tua tidak menyadari bahayanya dari sisi psikologis anak di masa yang akan datang,” ujarnya.
Paparan gadget dan media sosial secara terus-menerus juga dapat membuat anak terbiasa membandingkan kehidupannya dengan orang lain, memiliki rasa takut tertinggal, hingga mengalami kecanduan digital akibat dorongan hormon dopamin.
“Dari situ anak bisa menjadi gampang minder, terus membandingkan hidupnya dengan orang lain, karena sudah kecanduan,” ucapnya.
Ida menambahkan, kebiasaan bermain gadget sejak usia dini yang terus dibiarkan dapat menurunkan kemampuan daya tangkap anak sehingga berpengaruh terhadap proses belajarnya.
“Secara tidak sadar juga gadget ini membuat kualitas belajar anak jadi turun, akhirnya sulit menerima pembelajaran,” ungkapnya.
Karena itu, Ida mendorong orang tua meningkatkan komunikasi dua arah dengan anak serta menciptakan aktivitas nyata agar anak tidak menjadikan gadget sebagai satu-satunya sumber hiburan.
“Jadi yang saya lakukan beberapa itu adalah memberikan edukasi dan sosialisasi ke para orang tua untuk peduli psikologis anak,” ujarnya.
Selain membatasi penggunaan gadget, kedekatan antara orang tua dan anak dinilai penting untuk menjaga peran orang tua di tengah perkembangan teknologi, termasuk kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Ida, perkembangan AI juga menjadi tantangan baru karena anak mulai dapat bergantung pada teknologi tersebut dan berpotensi menggeser peran orang tua dalam mendampingi proses belajar maupun perkembangan anak.
“AI ini juga menjadi tantangan, sudah mulai kok peran orang tua itu tergeser dengan AI, anak lebih bergantung pada AI akhirnya,” pungkasnya.










