Forum Aktivis NU Jatim Soroti Risywah dan Runtuhnya Adab Jelang Muktamar ke-35 NU

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Forum Aktivis NU Jawa Timur menyampaikan keprihatinan atas munculnya berbagai isu mengenai dugaan risywah atau politik uang dalam proses kontestasi serta semakin kerasnya komunikasi antar-kader yang berpotensi menggerus adab dan akhlak keulamaan. Koordinator Forum Aktivis NU Jatim, Sudarsono Rahman, mengatakan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dipandang semata-mata sebagai dinamika politik organisasi.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah menjaga marwah NU sebagai jam'iyah yang lahir dari tradisi pesantren, ilmu, akhlak, tawadhu dan penghormatan kepada ulama.

“Kami tidak ingin Muktamar NU hanya menjadi arena perebutan jabatan. Yang harus dijaga adalah amanah, adab dan marwah keulamaan. Kalau suara dapat dibeli dengan uang, maka yang rusak bukan hanya proses Muktamar, tetapi kepercayaan warga NU terhadap organisasinya,” ujar Sudarsono.

Forum Aktivis NU Jatim juga mencermati beredarnya informasi mengenai dugaan pemberian uang dalam jumlah tertentu di sejumlah daerah. Sudarsono menegaskan, setiap tuduhan harus diverifikasi dan dibuktikan secara adil. Namun, jika praktik risywah benar-benar terjadi, hal tersebut harus dihentikan dan ditindak sesuai mekanisme organisasi maupun ketentuan yang berlaku.

“Risywah bukan sekadar persoalan nominal. Risywah menyangkut pengkhianatan terhadap amanah. Apalagi jika uang tersebut digunakan untuk membeli suara dalam organisasi keagamaan. Karena itu, transparansi sumber dan penggunaan dana dalam kontestasi Muktamar menjadi sangat penting,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar jangan sampai muncul pembenaran terhadap penggunaan uang yang sumbernya tidak jelas atau diduga berasal dari aktivitas yang bertentangan dengan nilai agama. Semua dugaan mengenai asal-usul dana harus dibuktikan, bukan dijadikan fitnah. Namun prinsipnya jelas: kepemimpinan NU tidak boleh dibangun dengan uang yang haram atau meragukan.

Adab Kader NU Harus Dijaga

Selain persoalan risywah, Forum Aktivis NU Jatim juga menyoroti munculnya pernyataan di ruang publik yang dinilai merendahkan kapasitas keilmuan seorang pengasuh pesantren.

Menurut Sudarsono, perbedaan pandangan dalam NU adalah sesuatu yang wajar. Kritik terhadap siapa pun juga merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Namun kritik harus disampaikan dengan ilmu, argumentasi dan adab.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan rasa hormat. Kalau ada persoalan keilmuan, mari diselesaikan dengan ilmu. Kalau ada perbedaan pandangan, mari bermusyawarah. Jangan sampai kritik berubah menjadi penghinaan,” tegasnya.

Menurutnya, tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama adab. Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan untuk menghormati orang yang lebih tua dan memuliakan orang berilmu. Al-Qur'an juga mengajarkan orang beriman untuk berkata benar dan tidak mudah menyebarkan prasangka maupun mencari-cari kesalahan orang lain.

“Keulamaan bukan hanya soal kemampuan membaca kitab. Keulamaan juga tercermin dari kemampuan menahan diri, menjaga lisan, menghormati orang lain dan memiliki empati. Orang berilmu bisa memenangkan perdebatan, tetapi orang yang matang secara spiritual tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri,” ujarnya.

NU Abad Kedua Harus Menghidupkan Kembali Akhlak

Sudarsono menilai gagasan menjadikan NU sebagai suluh peradaban pada abad kedua harus dimulai dari pembenahan internal. NU tidak akan menjadi suluh peradaban apabila dalam proses memilih pemimpin justru kehilangan nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan moralnya.

Karena itu, Forum Aktivis NU Jatim mendorong agar Muktamar NU ke-35 menjadi momentum untuk:

1.Menolak segala bentuk risywah dan jual beli suara.

2.Mendorong transparansi pembiayaan dan sumber dana kontestasi.

3.Menghidupkan kembali budaya tabayyun sebelum membuat tuduhan.

4.Menegakkan etika komunikasi antar-kader dan penghormatan kepada ulama.

5.Menjadikan ilmu, akhlak dan amanah sebagai ukuran utama kepemimpinan NU.

“Muktamar akan selesai, jabatan akan berganti dan para tokoh akan datang silih berganti. Tetapi akhlak akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang,” kata Sudarsono.

Ia berharap seluruh kader NU mampu menahan diri dan mengutamakan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi.

“Menjaga NU bukan hanya menjaga organisasinya. Menjaga NU berarti menjaga tradisi keulamaannya, menjaga adabnya, menjaga amanahnya dan menjaga kehormatannya. Inilah yang harus kita wariskan kepada NU abad kedua,” pungkasnya.