PRBOLINGGO,BANGSAONLINE.com - Kasus meninggalnya Adelia Hilwa Salsabila (5), seorang bocah di Klinik Siti Hajar NU, Desa Pohsangit Tengah, Kecamatan Wonomerto, berbuntut pada rencana aksi demonstrasi.
Keluarga korban bersama sejumlah warga berencana mendatangi Klinik Siti Hajar NU untuk menggelar aksi protes dalam waktu dekat.
Salah satu keluarga korban, Arif Ramdani, mengatakan aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus upaya meminta kejelasan mengenai pelayanan medis yang diterima Adelia sebelum meninggal dunia.
“Aksi demo itu akan dilakukan dalam waktu dekat ini,” kata Arif Ramdani, Jumat (11/9/2026).
Menurut Arif, keluarga juga berencana menuntut petugas medis yang mereka duga lalai dalam memberikan pelayanan kepada korban.
Keluarga meminta petugas yang dinilai bertanggung jawab atas pelayanan terhadap Adelia mendapatkan tindakan tegas, termasuk pemberhentian apabila nantinya terbukti melakukan kelalaian.
“Masak kondisi pasien yang parah ditinggal tidur dan main HP,” tandasnya.
Namun, tudingan tersebut dibantah pihak Klinik Siti Hajar NU yang menyatakan pelayanan medis terhadap korban telah diberikan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Dokter Klinik Siti Hajar NU, dr Risa Budi Pratiwi, turut memberikan klarifikasi terkait tudingan petugas menggunakan telepon seluler saat menangani pasien.
“Petugas itu bukan main HP, tapi konsul dengan dokter,” ujar dr Risa Budi Pratiwi.
Menurut Risa, penggunaan telepon seluler tersebut dilakukan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi pasien dan bukan untuk kepentingan pribadi.
Risa juga menjelaskan mengenai persoalan ambulans yang menjadi salah satu bagian dalam penanganan korban. Menurutnya, sopir ambulans saat itu tidak dapat menjalankan tugas karena berhalangan.
“Untuk sopir ambulans memang tidak ada karena berhalangan, anaknya rewel,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, ambulans kemudian dikemudikan sendiri oleh pihak keluarga korban. (ugi/van)










