Ringkasan Berita
- Peserta JKN didorong rutin skrining kesehatan via aplikasi Mobile JKN karena tidak ada gejala belum tentu tubuh sehat. Deteksi dini dapat mengungkap risiko penyakit seperti hipertensi sebelum berkembang serius.
- Skrining dapat dilakukan dengan mudah dan cepat (5-10 menit) melalui aplikasi, WhatsApp, atau langsung ke fasilitas kesehatan. Contoh kasus Indra menunjukkan skrining berhasil mendeteksi risiko hipertensi yang tidak disadari.
- Penyakit kardiovaskular merupakan beban biaya tertinggi dalam JKN, sehingga pencegahan dan deteksi dini sangat penting. Status kepesertaan aktif dengan membayar iuran tepat waktu diperlukan untuk mengakses layanan.
- Skrining kesehatan adalah layanan preventif untuk mendeteksi risiko penyakit kronis. Hasil skrining dapat menjadi panduan untuk konsultasi dan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com – Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tulungagung, Fitriyah Kusumawati, mengajak seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk selalu rutin skrining kesehatan melalui aplikasi Mobile JKN.
Menurutnya, tubuh tidak merasakan gejala sama sekali bukan selalu tubuh dalam kondisi fit. Sebagai langkah antisipasi dan memastikan tubuh dalam keadaan sehat dan terkontrol, Fitriyah mengimbau peserta JKN agar tak lupa untuk rutin skrining kesehatan.
Seperti yang dialami Indra Kusuma (46), peserta JKN asal Tulungagung. Ia mengaku semula merasa sehat dan tidak merasakan gejala apa pun. Namun, ketika mengisi skrining riwayat kesehatan di aplikasi Mobile JKN, hasilnya menunjukkan bahwa dirinya memiliki risiko hipertensi.
Indra kemudian membawa hasil skrining tersebut ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Di sana, dokter menjelaskan kondisi kesehatannya sekaligus memberikan arahan mengenai pola hidup yang perlu diubah dan obat yang perlu dikonsumsi.
“Awalnya saya tidak merasakan gejala apa pun, merasa sehat-sehat saja. Tapi setelah mengisi skrining di Mobile JKN, hasilnya menunjukkan saya berisiko hipertensi. Saya langsung ke puskesmas membawa hasil skrining itu dan dokternya langsung menjelaskan kondisi saya dengan sangat informatif, memberikan arahan pola hidup yang harus diubah, dan memberikan obat yang perlu saya konsumsi. Saya bersyukur karena kalau tidak mengisi skrining, mungkin saya tidak akan tahu sakit hipertensi dan kondisi saya bisa semakin parah tanpa disadari,” bebernya, Jumat (18/9/2026).
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya mengenali kondisi kesehatan sedini mungkin. Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara konsisten sekaligus memanfaatkan layanan skrining kesehatan yang tersedia.
Fitri, sapaan akrab Kepala BPJS Tulungagung, mengatakan gangguan kesehatan jantung hingga kini masih menduduki posisi pertama dalam daftar penyakit berbiaya tinggi yang dijamin BPJS Kesehatan melalui Program JKN.
“Tingginya besarnya biaya yang dikeluarkan untuk penanganan pasien pada gangguan kardiovaskular, ini mencerminkan seriusnya dampak yang ditimbulkan,” katanya.
Menurut Fitri, penanganan gangguan kesehatan kardiovaskular termasuk pembiayaan tinggi yang dijamin BPJS Kesehatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan sejak dini.
“Artinya, ini bukan penyakit yang bisa dianggap remeh. Justru karena itulah kami mendorong masyarakat untuk lebih serius dalam menjaga kesehatan sejak dini sebelum berkembang menjadi komplikasi penyakit,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fitri menjelaskan layanan skrining kesehatan dapat diakses oleh seluruh peserta JKN dan dirancang untuk mendeteksi sejak dini apakah seseorang memiliki risiko terkena gangguan kesehatan kronis, termasuk gangguan kardiovaskular.
Peserta tidak harus datang langsung ke kantor BPJS Kesehatan untuk melakukan skrining. Pengisian dapat dilakukan melalui aplikasi Mobile JKN di telepon seluler masing-masing. Peserta juga dapat mengakses layanan Pandawa melalui WhatsApp 08118165165 atau melakukan skrining dengan datang langsung ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar.
Fitri mengatakan, skrining tidak membutuhkan waktu lama. Peserta hanya perlu meluangkan beberapa menit untuk mengisi pertanyaan yang tersedia.
"Semakin cepat diketahui risiko gangguan kesehatan, semakin cepat pula dapat ditangani sebelum berkembang menjadi yang lebih serius. Peserta JKN hanya perlu menyisihkan waktu selama lima sampai sepuluh menit untuk mengisi skrining," terang Fitri.
Menurut Fitri, upaya pencegahan dan deteksi dini tersebut juga perlu diikuti dengan memastikan kepesertaan JKN tetap aktif. Status kepesertaan yang aktif memungkinkan peserta memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan, mulai dari pelayanan di FKTP hingga penanganan lanjutan di rumah sakit apabila diperlukan.
Karena itu, peserta JKN diimbau untuk memperhatikan status kepesertaannya dan memenuhi kewajiban pembayaran iuran secara tepat waktu setiap bulan.
"Kami mengimbau seluruh peserta untuk memastikan status kepesertaan JKN-nya selalu aktif dengan membayar iuran tepat waktu setiap bulannya. Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Jangan tunggu sakit baru peduli, mulai jaga kesehatan dari sekarang dan manfaatkan seluruh layanan preventif yang sudah disediakan oleh BPJS Kesehatan," ujarnya.
Upaya menjaga kesehatan pada akhirnya bukan hanya dilakukan ketika seseorang mulai merasakan sakit. Mengenali risiko kesehatan lebih awal dapat menjadi langkah untuk mengambil tindakan lebih cepat, terutama ketika hasil skrining menunjukkan adanya risiko tertentu.
Pengalaman Indra menjadi salah satu gambaran bahwa skrining dapat membuka informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Dari hasil tersebut, ia kemudian melanjutkan pemeriksaan ke puskesmas dan mendapatkan penjelasan mengenai kondisi yang dialaminya.
Karena itu, peserta JKN dapat memanfaatkan Skrining Riwayat Kesehatan secara berkala melalui kanal yang tersedia. (fer/msn)










