Wagub Emil Dorong Sandbox Kewirausahaan, Bantu Anak Muda Uji Inovasi Sebelum Berbisnis

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berencana menjalin komunikasi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membahas peluang pengembangan ekosistem kewirausahaan tersebut.

Ia menegaskan, keberhasilan membangun usaha tidak hanya bergantung pada produk yang dihasilkan. Seorang wirausahawan juga harus mampu beradaptasi, membaca peluang, dan mengembangkan bisnis sesuai kebutuhan pasar.

“Yang harus kita cetak itu apa? Entrepreneur-nya atau wirausahanya ini. Nah, ini yang dicoba dibangun di DSC,” katanya.

Emil mencontohkan, kolaborasi antarpelaku usaha dapat membuka peluang terciptanya produk yang lebih inovatif. Salah satunya melalui pengembangan produk ear monitor yang melibatkan alumni DSC dan alumni lain yang memiliki produk mikrofon. Kolaborasi tersebut bahkan membuka peluang untuk memperkenalkan produk ke pasar luar negeri.

Menurut Emil, berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat merupakan modal penting untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner DSC Surjanto Yasaputera mengatakan, program DSC tidak hanya berfokus pada pemberian hibah modal usaha. Program tersebut juga berupaya membangun ekosistem kewirausahaan melalui edukasi, pendampingan, dan perluasan jejaring bisnis melalui Diplomat Entrepreneur Network (DEN).

Memasuki tahun ke-17, DSC bertransformasi melalui Founders Arena dengan mengedepankan keterbukaan, inklusivitas, kolaborasi, serta kesempatan yang setara bagi para pendiri usaha di Indonesia.

Surjanto menjelaskan, terdapat tiga unsur penting dalam membangun pola pikir kewirausahaan, yakni kemauan personal, pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).

Menurutnya, pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, sedangkan keterampilan perlu terus diasah melalui latihan dan pengalaman.

Namun, keduanya tidak akan berkembang secara optimal tanpa kemauan untuk memulai usaha dan bertahan menghadapi berbagai tantangan.

“Kalau kita enggak ada kemauan, ya tentu sulit. Kemudian skill, biasanya ini harus dilalui dengan latihan. Jadi, kalau sudah mau melakukan sesuatu, kemudian dilatih skill-nya, knowledge-nya didapatkan dari sumber mana pun, pola pikir wirausahawan itu sudah terbentuk,” jelasnya.

Dukungan terhadap pengembangan wirausaha muda juga dilakukan ITS melalui transformasi dari Research University menuju Entrepreneurial University. Wakil Rektor III ITS Imam Baihaqi mengatakan, transformasi tersebut bertujuan mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan dan keberanian untuk menciptakan solusi atas berbagai persoalan.

“Artinya, kita bukan hanya menciptakan entrepreneur-entrepreneur, tetapi kita menciptakan lulusan yang berjiwa entrepreneur,” ujarnya. (dev/van)