BANGSAONLINE.com - Pabrikan Aprilia mengakui tengah mempertimbangkan penerapan team order atau instruksi tim guna memperbesar peluang meraih gelar juara dunia MotoGP musim ini melawan Ducati. Meski demikian, untuk saat ini, para pembalapnya dipastikan masih diberikan kebebasan penuh untuk saling bersaing di lintasan.
Langkah ini menyusul pencapaian bersejarah Aprilia di Grand Prix Indonesia, di mana mereka berhasil menyapu bersih posisi 1–4. Pembalap tim pabrikan, Marco Bezzecchi, keluar sebagai pemenang usai memenangi duel sengit melawan Raul Fernandez dari tim satelit Trackhouse.
Kendati mendominasi balapan utama di Sirkuit Mandalika, Aprilia harus tetap ekstra waspada. Persaingan gelar juara dunia musim ini berjalan sangat ketat dan terus berganti kendali dengan rival utama mereka, Ducati.
Usai seri Indonesia, Jorge Martin memimpin klasemen pembalap dengan keunggulan tipis dua poin atas Marc Marquez. Sementara itu, Bezzecchi berada di posisi ketiga dengan selisih 46 poin setelah sempat melewati periode sulit akibat sanksi larangan balap serta cedera lutut dan tulang selangka.
Situasi ini menempatkan Aprilia pada pilihan dilematis. Demi membendung dominasi Marquez, Aprilia menyadari potensi besar untuk memberikan prioritas penuh kepada Martin dalam perburuan gelar. Padahal, Martin dipastikan bakal hengkang ke Yamaha musim depan, sedangkan Bezzecchi diproyeksikan sebagai tumpuan jangka panjang tim.
Dengan lima seri tersisa, Aprilia menegaskan masih memberikan dukungan setara kepada kedua pembalapnya. Namun, wacana instruksi tim mulai dimatangkan agar peluang emas meraih gelar juara dunia tidak terbuang sia-sia.
"Senang rasanya memiliki 'masalah' seperti ini, yaitu mengelola persaingan internal. Untuk saat ini, seperti yang disampaikan CEO kami Massimo [Rivola], situasinya masih sepenuhnya bebas," ujar Direktur Teknis Aprilia, Fabiano Sterlacchini.
"Namun jelas, kami mulai berdiskusi di internal tim untuk menetapkan pedoman arahan guna menghindari masalah di kemudian hari," lanjutnya.
Sterlacchini menambahkan, kendati belum ada kebutuhan mendesak, Aprilia merasa perlu menetapkan aturan main yang jelas dalam beberapa balapan mendatang agar para pembalapnya tidak saling merugikan. Apalagi, Aprilia juga tengah bersaing ketat dengan Ducati di klasemen konstruktor dengan hanya terpaut 12 poin menjelang GP Australia.
"Kami belum menetapkan tenggat waktu pasti. Namun dalam beberapa balapan ke depan, mungkin saatnya tiba untuk berdiskusi dengan Massimo dan menentukan strategi tim yang tegas tanpa ragu," ungkapnya.
Pentingnya koordinasi internal semakin terasa pascainsiden balapan sprint pada Sabtu. Saat itu, Raul Fernandez dan Bezzecchi gagal finis akibat terlibat benturan di lap pertama. Insiden tersebut—ditambah masalah yang dialami Martin—menjadi keuntungan besar bagi Marquez yang akhirnya meraih kemenangan.
Sesi sprint tersebut sempat memicu ketegangan setelah Fernandez meluapkan kekesalannya dan menilai Bezzecchi tampil tidak profesional. Namun, manajemen Aprilia bergerak cepat memediasi kedua pembalap sebelum balapan utama hari Minggu digelar.
"Di tingkat persaingan setinggi ini, ketegangan antar pembalap adalah hal yang wajar. Pagi harinya, Massimo dan saya mengumpulkan mereka untuk berdiskusi secara terbuka dan meluruskan kesalahpahaman. Hasilnya sangat positif," pungkas Sterlacchini.










