Survei Celios: 75% Masyarakat Stres Kebijakan Pemerintah, 67 % Stres Perilaku Presiden Prabowo

JAKARTA, BANGSAONLINE.com-Hasil survey Center of Ekonomic and Law Studies (Celios) sangat mengejutkan. Menurut Celios, mayoritas masyarakat Indonesia merasakan tekanan mental akibat arah kebijakan dan tata kelola di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun terakhir.

Dalam temuan survei Celios bersama tim Kabinet Bayangan menunjukkan bahwa sebanyak 75 persen responden dari kelompok masyarakat umum merasa stres menghadapi kebijakan pemerintah. Yang juga mengejutkan masyarakat bukan hanya stres terhadap kebijakan pemerintah tapi juga terhadap perilaku Presiden Prabowo. Masyarakat yang stress dengan prilaku Prabowo itu mencapai sekitar 67 persen.

Hal itu diumumkan Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta pada Ahad, 11 Oktober 2026 seperti dilansir Tempo. Ia mengungkapkan bahwa indikator tekanan psikologis ini menjadi salah satu sorotan utama dalam evaluasi dua tahun kinerja Kabinet Merah Putih.

“Ini ditanyakan kepada masyarakat umum, 1.142 responden. Jawabannya, 75 persen merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan secara spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Bhima Yudhistira.

Menurut Bhima, survei yang ia lakukan menjaring persepsi 1.142 responden masyarakat umum dan 129 responden ahli di berbagai provinsi di Indonesia. Hasil survei mencatat penilaian kinerja Prabowo secara keseluruhan hanya mendapat skor 4,6 dari skala 10 menurut masyarakat umum, serta 2,8 dari skala 10 berdasarkan penilaian para ahli.

Bagimana dengan kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka? Masyarakat umum memberi 4,9 sedangkan kelompok ahli memberi nilai 2,2.

“Jadi keduanya sama-sama memiliki skor di bawah angka 5,” ujar Bhima.

Mayoritas rakyat Indonesia stress ternyata karena faktor tekanan ekonomi. Menurut hasil survey Celios, tingginya tingkat stres publik berbanding lurus dengan makin beratnya beban ekonomi rumah tangga. Sebanyak 82 persen masyarakat mengeluhkan beban pajak dan pungutan pemerintah yang dinilai terlalu memberatkan. Di sisi lain, melonjaknya harga kebutuhan pokok menjadi persoalan paling mendesak yang dikeluhkan oleh 78 persen responden.

Menurut Celios, 53 persen masyarakat menilai keadaan ekonomi keluarga mereka memburuk, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Dampaknya, 53 persen masyarakat menilai kondisi ekonomi rumah tangga dibandingkan setahun lalu adalah lebih buruk,” kata Bhima.

Hasil survey Celios itu juga mengungkap bahwa 31 persen masyarakat menilai kondisi ekonomi setahun belakangan tidak mengalami perubahan atau sama saja, dan hanya 16 persen yang menyatakan kondisi ekonomi mereka membaik.

Menurut Bhima, kekecewaan terhadap situasi ekonomi dan gaya kepemimpinan nasional turut menggerus basis dukungan politik presiden. Hasil survei mencatat sebanyak 55 persen pemilih Prabowo pada Pemilu 2024 menyatakan tidak akan memilihnya kembali pada pemilihan presiden mendatang.

Hanya 27 persen yang menyatakan akan memilih kembali, sedangkan 19 persen sisanya menyatakan tidak tahu.

Dr Wahyu Media Askar, salah seorang peneliti Celios, menjelaskan bahwa riset ini merupakan kelanjutan dari evaluasi 100 hari dan satu tahun kepemimpinan Prabowo−Gibran.

Proses penelitian berlangsung selama tiga bulan, mencakup penyusunan kuesioner, pengumpulan data, hingga penulisan laporan. Media Askar menegaskan seluruh proses evaluasi dijalankan secara independen tanpa pendanaan donor.

“Dalam konteks tata kelola riset ini, kami tidak dibiayai oleh lembaga atau donor mana pun. Semata-mata ini adalah kontribusi akademik yang kami lakukan untuk mengevaluasi pemerintahan Prabowo-Gibran,” ujar Media Askar, yang bertindak sebagai Menteri Perekonomian Kabinet Bayangan

Menurut Media Askar, angka yang dihasilkan murni cerminan suara publik. “Setiap angka yang lahir dari studi ini bukan angka dari kami—peneliti—melainkan ekspresi masyarakat dan para ahli yang kami libatkan,” jelas dosen UGM yang kerap menjadi khatib Jumat itu.