TGH Turmudzi Wafat Usia 90 Tahun, PP Qomarul Huda Tonggak Sejarah Presiden Wanita dalam Islam

LOMBOK TENGAH, BANGSAONLINE.com-Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin – akrab dipanggil Tuan Guru Bagu atau Datok Bagu - wafat pada Kamis 15 Oktober 2026 pukul 13.37 WITA.

Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda, Desa Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu dikenal sebagai ulama kharismatik Nahdlatul Ulma (NU)

Tuan Guru Turmudzi wafat dalam usia 90 Tahun. Ia lahir pada 1 April 1936 (9 Muharram 1355 H) di Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, NTB.

Nama Tuan Guru Turmudzi sangat mashyur di kalangan NU. Ulama yang selalu bersorban itu dikenal akrab dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketua PBNU tiga periode dan Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Bahkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU pada 1997 sewaktu Gus Dur menjabat Ketua Umum Tanfidziah PBNU ditempatkan di pondok pesantren yang didirikan dan diasuh oleh Tuan Guru Turmudzi yaitu Pondok Pesantren Qomarul Huda  di Desa Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dalam Munas NU 1997 itulah ada pembahasan dan keputusan fenomenal dari para ulama NU. Yaitu terkait makanatul mar'ah fil islam (kedudukan wanita dalam Islam). Termasuk posisi pemimpin wanita atau presiden wanita. Forum bahtsul masail saat itu menegaskan bahwa Islam mengafirmasi kesetaraan hak politik antara laki-laki dan perempuan.

Hasil Munas ini secara fiqih mengakhiri perdebatan panjang di internal umat Islam mengenai boleh atau tidaknya seorang perempuan menjadi pemimpin negara atau presiden. NU menegaskan bahwa perempuan diperbolehkan mengambil peran publik dan politik asalkan mampu dan memiliki kapasitas sebagai pemimpin.

Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu- degan demikian - menjadi salah satu tonggak sejarah penting dalam proses dan legitimasi keagamaan pemimpin perempuan, termasuk presiden perempuan dalam Islam. Dan itu jasa besar Munas Alim Ulama NU.

Secara umum Munas NU saat itu membahas berbagai isu penting. Seain soal kedudukan wanita dalam Islam, juga membahas soal demokrasi, hak asasi manusia, serta persoalan keagamaan dan kontemporer. Forum tersebut menegaskan kesetaraan gender serta mengkaji masalah medis dan sosial seperti pernikahan pengidap HIV/AIDS dan kloning gen.

Memang gelaran Munas NU saat itu berdekatan dengan Pemilu1999. Otomatis para ulama NU harus merespons realitas sosial politik. Namun ternyata yang terpilih sabagai presiden adalah Gus Dur sendiri.

Tuan Guru Turmuzi berasal dari keluarga bangsawan (Perwangse) suku Sasak sekaligus keluarga santri. Tuan Guru memulai belajar agama atau Al-Qur'an dari ayahandanya, yaitu TGH. Raden Badaruddin. Kemudian berguru kepada Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel selama 14 tahun. Tuan Guru kemudian melanjutkan belajar di Masjidil Haram, Makkah, selama 6 tahun.

Sepulang haji pada 1962 Tuan Guru kemudian mendirikan sekaligus mengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda di Desa Bagu, Lombok Tengah.

Nama Tuan Guru Turmudzi selalu masuk sebagai anggota Ahlul Halli wal 'Aqdi dari Muktamar ke Muktamar NU. Selain itu juga selalu diangkat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hanya pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesan Bahrul Ulum Tambak Beras namanya tak tercantum dalam Ahwa. Innalililahi wainna ilaihi roji’un.