MALANG, BANGSAONLINE.com - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., mengajak kalangan mahasiswa untuk membentuk karakter kepemimpinan yang utuh. Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, melainkan juga harus memiliki empati, integritas, rasa tanggung jawab, serta ketangguhan dalam menghadapi dinamika tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan oleh senator yang akrab disapa Ning Lia saat menjadi pembicara dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut (LKMM-TL) Universitas Brawijaya 2026 yang berlangsung di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB), Malang, Minggu (11/10/2026).
Agenda ini diikuti oleh mahasiswa UB serta perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia yang telah lulus latihan keterampilan manajemen mahasiswa tingkat menengah (LKMM-TM).
Dalam sesi bertema Capacity Building: Public & Self Management, Ning Lia memperkenalkan filosofi SUPERRR, sebuah konsep pengembangan karakter yang mencakup Sociable, Unique, Problem Solver, Empathy, Responsibility, serta Resolution and Resiliency.
Konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan antara pengelolaan diri, kemampuan bersosialisasi, penyelesaian masalah, dan adaptabilitas yang positif.
“Menjadi pemimpin bukan hanya soal kecerdasan atau keberanian berbicara, tetapi bagaimana kita mampu memahami orang lain, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan. Melalui filosofi SUPERRR, saya ingin mengajak mahasiswa membangun karakter kepemimpinan yang kuat, berempati, dan tangguh menghadapi perubahan,” ujar Ning Lia.
Ia menambahkan bahwa kapasitas kepemimpinan tidak diukur sebatas dari posisi atau besarnya pengaruh seseorang. Kemampuan membaca lingkungan, menghargai keberagaman, dan menghadirkan solusi konkret merupakan kunci utama dalam membangun kepercayaan publik.
Secara terperinci, prinsip sociable dan unique mendorong mahasiswa untuk membangun relasi sosial yang sehat seraya mengenali potensi keunikan diri masing-masing.
Sementara itu, problem solver melatih mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan secara rasional dan strategis, dengan mengolah perbedaan pendapat menjadi kekuatan organisasi.
Ning Lia memberi penekanan khusus pada aspek empathy (empati), yang menurutnya harus berbanding lurus dengan responsibility (tanggung jawab).
“Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang didengar ketika berbicara, tetapi juga mereka yang mau mendengarkan. Karena kepemimpinan bukan sekadar menggerakkan orang lain, melainkan bagaimana kita membangun kepercayaan, menjaga integritas, dan menghadirkan kebaikan bersama,” tuturnya.
Mengenai mentalitas kepemimpinan, Ning Lia menggarisbawahi pentingnya resolution (penetapan tujuan dan strategi) serta resiliency (ketangguhan mental). Ia mengingatkan agar generasi muda tidak berkecil hati ketika menghadapi kegagalan dalam proses belajar maupun berorganisasi.
“Jangan pernah takut menghadapi kegagalan. Sebab, pemimpin hebat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang selalu memiliki keberanian untuk bangkit, belajar, dan melangkah lebih baik. Setiap kesulitan adalah bagian dari proses membentuk karakter,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, Ning Lia juga menyandingkan konsep kepemimpinan dengan berbagai landasan teori akademis, seperti teori kepribadian Gordon Allport, pemikiran strategi Harry Yarger, hierarki kebutuhan Abraham Maslow, hingga teori komunikasi Harold Lasswell.
Di era digital saat ini, ia mengimbau generasi muda agar menyikapi kemudahan berpendapat di media sosial dengan kedewasaan berpikir dan literasi informasi yang matang. Organisasi kemahasiswaan dinilainya sebagai wadah paling tepat untuk mengasah kedewasaan dan kepedulian sosial tersebut.
“Generasi muda jangan hanya bercita-cita menjadi pemimpin karena jabatan. Jadilah pemimpin karena mampu menghadirkan manfaat. Kepemimpinan sejati dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri, menghargai perbedaan, dan memberikan solusi bagi masyarakat,” tegas Ning Lia.
Melalui forum LKMM-TL UB 2026 ini, diharapkan lahir deretan pemimpin muda yang unggul secara akademis sekaligus berintegritas dan peka terhadap isu-isu sosial di masyarakat.










