"Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan dukungan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Ini adalah kehormatan bagi Kota Batu," ujar Nurochman yang akrab disapa Cak Nur.
Ia menegaskan, penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah.
Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar program kesehatan dapat berjalan optimal hingga tingkat desa dan kelurahan.
"Pelayanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat. Dengan adanya dokter di setiap desa dan kelurahan serta tim siaga TBC, kami ingin pencegahan dan penanganan penyakit bisa dilakukan lebih cepat, lebih dekat, dan lebih tuntas," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja menjelaskan bahwa strategi tersebut berfokus pada penguatan upaya pencegahan.
Mengingat keterbatasan tenaga kesehatan di wilayah, keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat di desa dan kelurahan menjadi sangat penting.
"Kalau pengobatan sudah bagus, yang harus kita kuatkan adalah pencegahannya. Tenaga kesehatan sangat terbatas di kewilayahan, sehingga kehadiran Desa/Kelurahan Siaga TBC ini penting. Semua pihak di desa dan kelurahan sesuai tugas fungsinya dapat mendukung upaya pencegahan TBC, mulai dari penemuan kasus dari kontak erat hingga terapi pencegahan," ujar Aditya.
Saat ini, seluruh 24 desa dan kelurahan di Kota Batu telah berpartisipasi dalam program Desa/Kelurahan Siaga TBC. Pelaksanaannya mendapat dukungan penuh dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) di masing-masing kecamatan.
Surat keputusan pembentukan tim siaga juga telah diterbitkan. Selain itu, pembekalan bagi tim inti telah dilaksanakan dalam enam kelompok agar materi dapat disampaikan secara efektif dan dipahami oleh para peserta. (adi/van)










