Pemprov Kalsel Jaga Stabilitas Pangan dengan Penguatan Produksi dan Distribusi

BANGSAONLINE.com - Pemprov Kalimantan Selatan (Kalsel) terus memperkuat ketahanan pangan melalui berbagai program yang berfokus pada ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan pasokan pangan bagi masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan produksi, distribusi, hingga hilirisasi komoditas pertanian. Gubernur Kalsel, Muhidin, menyebut ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kecukupan produksi, tetapi juga memastikan masyarakat dapat memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau serta menjamin keberlanjutan sektor pertanian.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan dan keberlanjutan produksi bagi masyarakat,” kata Muhidin dalam keterangan resminya di Banjarmasin, Rabu (28/10/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya secara konsisten menjalankan sejumlah intervensi untuk menjaga pasokan dan distribusi pangan, di antaranya melalui Gerakan Pasar Murah, penguatan sistem logistik antarwilayah, serta mempertahankan posisi Kalimantan Selatan sebagai salah satu lumbung pangan regional di Pulau Kalimantan.

Muhidin menyebut kebijakan ini turut berkontribusi terhadap stabilitas harga pangan. Berdasarkan data triwulan pertama 2026, inflasi di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 0,2 persen pada Januari, 0,86 persen pada Februari, dan 0,5 persen pada Maret.

“Kita ingin petani sejahtera, tetapi masyarakat juga tetap bisa membeli dengan harga wajar. Disitulah pemerintah hadir untuk menjaga keseimbangan,” ucapnya.

Selain menjaga pasokan, pemerintah daerah juga mendorong hilirisasi komoditas pangan guna meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperluas pilihan produk bagi konsumen.

Salah satu contohnya adalah pengembangan beras khusus dengan kualitas dan nilai jual yang lebih tinggi serta pengolahan singkong menjadi beras analog oleh kelompok tani di Kabupaten Tanah Bumbu.

Petani sedang tandur (ditata mundur), menanam bibit padi ke dalam lumpur sawah dengan berjalan mundur agar tanaman tidak terinjak. Foto: Media Center Kalsel

Pemerintah juga mengembangkan berbagai komoditas hortikultura seperti cabai besar, cabai rawit, bawang merah, jahe, jeruk, durian, dan pisang sebagai bagian dari diversifikasi pangan daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, menyatakan stabilitas pangan daerah turut ditopang keberadaan lumbung pangan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Disampaikan olehnya bahwa pemerintah telah melakukan rehabilitasi lumbung pangan di sejumlah daerah seperti Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut, termasuk pembangunan fasilitas pendukung seperti lantai jemur untuk meningkatkan kualitas gabah.

Saat ini terdapat 175 lumbung pangan yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan. Fungsinya tidak hanya sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga ketersediaan pangan, meredam fluktuasi harga, dan memastikan akses pangan saat terjadi kondisi darurat.

Syamsir menambahkan penguatan ketahanan pangan juga didukung sinergi lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, Satgas Pangan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga distribusi pupuk maupun bahan pokok.

Menurut dia, tantangan ke depan adalah memastikan sistem lumbung pangan mampu beradaptasi dengan dinamika produksi dan kebutuhan masyarakat agar surplus hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang optimal.

“Yang kita bangun bukan hanya fisiknya, tetapi juga sistem pendukungnya. Lumbung pangan harus mampu menjadi pengaman di tingkat masyarakat, agar setiap terjadi gejolak pasokan dan harga, bisa diantisipasi lebih cepat dan tepat,” pungkas Syamsir. (red)