BANGSAONLINE.com - Sejumlah ahli menyerukan agar perubahan iklim ditetapkan sebagai darurat kesehatan global menyusul meningkatnya dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan masyarakat di berbagai negara.
Seruan tersebut disampaikan dalam laporan The Lancet Countdown on Health and Climate Change 2026 yang melibatkan ratusan peneliti dari berbagai institusi dunia.
Laporan yang dikutip oleh Xinhua pada Sabtu (7/11/2026) itu menyebutkan bahwa risiko kesehatan akibat perubahan iklim meningkat lebih cepat dalam satu dekade setelah Perjanjian Paris 2015 dibandingkan periode sepuluh tahun sebelumnya.
Penelitian tersebut disusun oleh 146 peneliti dari 71 institusi, termasuk tujuh peneliti dari Universitas Sydney. Kajian dilakukan melalui kolaborasi yang dipimpin University College London bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Salah satu temuan utama dalam laporan tersebut adalah meningkatnya angka kematian yang berkaitan dengan paparan suhu panas. Sepanjang periode 2016 hingga 2023, suhu panas tercatat menyebabkan rata-rata sekitar 540.800 kematian setiap tahun di dunia.
Laporan itu memperkirakan sekitar 68 persen dari jumlah kematian tersebut berkaitan dengan perubahan iklim. Sementara pada 2023, yang menjadi tahun terpanas selama periode penelitian, suhu panas dikaitkan dengan sekitar 710.000 kematian secara global.
Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, perubahan iklim juga dinilai memengaruhi produktivitas tenaga kerja. Paparan suhu ekstrem menyebabkan hilangnya sekitar 573 miliar jam kerja potensial pada 2025.
Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada potensi kehilangan pendapatan global hingga 1,07 triliun dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, investasi di sektor energi bersih pada tahun yang sama mencapai rekor 2,1 triliun dolar AS.
Meski investasi energi bersih terus meningkat, laporan tersebut menyebut bahan bakar fosil masih menyumbang lebih dari 80 persen pasokan energi dunia. Polusi yang dihasilkan dari penggunaan energi fosil diperkirakan berkaitan dengan sekitar 2,73 juta kematian setiap tahun.
Para peneliti menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi global.
Melalui laporan tersebut, para ahli mendorong adanya perhatian dan langkah yang lebih kuat dari komunitas internasional untuk mempercepat upaya mitigasi perubahan iklim guna mengurangi dampak kesehatan yang semakin besar di masa mendatang. (rom)










