IMPSB Malang Gelar ORBIT XXII, Perkuat Karakter dan Identitas Mahasiswa Bawean

Ringkasan Berita
  • IMPSB Malang menyelenggarakan ORBIT ke-22 sebagai program kaderisasi strategis, yang dirancang tidak hanya untuk rekrutmen tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa Bawean perantauan.
  • Kegiatan ini menekankan pelestarian identitas budaya Bawean sebagai nilai inti, dengan pesan agar mahasiswa tidak kehilangan jati diri meskipun hidup di tengah arus modernisasi.
  • ORBIT berlangsung dinamis melalui berbagai metode seperti diskusi kelompok dan refleksi, yang berhasil membangun rasa kebersamaan dan dukungan layaknya keluarga baru di perantauan.
  • Antusiasme peserta tinggi dengan adanya pengakuan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan dan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan organisasi.

KOTA BATU,BANGSAONLINE.com - Di tengah tantangan kehidupan perantauan, Ikatan Mahasiswa Pulau Bawean (IMPSB) Malang terus memperkuat perannya sebagai wadah pembinaan generasi muda melalui kegiatan ORBIT (Open Recruitment & Basic Training) ke-XXII.

Kegiatan yang digelar di Villa Ayana Syariah, Kota Batu, pada Sabtu (3/4/2026) tersebut menjadi momentum penting dalam mencetak kader mahasiswa Bawean yang tidak hanya adaptif di lingkungan akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat serta kepedulian terhadap identitas budaya daerah.

Ketua pelaksana ORBIT XXII, Asyraf, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang lebih dari sekadar rekrutmen anggota baru.

“ORBIT adalah proses pembentukan karakter. Kami ingin setiap peserta tidak hanya bergabung, tetapi tumbuh bersama dalam nilai kebersamaan dan tanggung jawab,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua IMPSB Malang, Abdurrahman, yang menekankan pentingnya kaderisasi sebagai fondasi keberlanjutan organisasi.

“Ini bukan hanya pintu masuk keanggotaan, tetapi gerbang awal lahirnya calon-calon pemimpin IMPSB ke depan. ORBIT menjadi syarat penting bagi anggota yang ingin mengambil peran strategis di organisasi,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung dinamis melalui sesi penyampaian materi, forum group discussion, hingga refleksi malam yang dirancang untuk memperkuat pemahaman sekaligus membangun kedekatan emosional antaranggota.

Salah satu nilai utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah pelestarian budaya Bawean. Materi yang disampaikan oleh Muhammad Nuh mengajak peserta untuk tetap menjaga jati diri di tengah arus modernisasi.

“Mahasiswa Bawean harus tetap punya identitas. Di mana pun berada, nilai budaya tidak boleh hilang,” pesannya.

Antusiasme peserta pun terlihat dari keterlibatan aktif sepanjang kegiatan. Salah satu peserta, Syaiful Anam, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan sejak awal merantau.

“Saya merasa tidak sendiri. Di sini saya menemukan keluarga baru yang saling mendukung,” ungkapnya. (asa/van)