Bukan Sekadar Bangkit di 2026, ini yang Membuat Max Verstappen Pede Bersama Red Bull di Musim 2027

SINGAPURA, BANGSAONLINE.com - Berhasil mengamankan dua kemenangan dari tiga seri Grand Prix terakhir serta selisih waktu yang sangat tipis 0,196 detik di Sirkuit Baku, Max Verstappen dan Red Bull Racing kembali menegaskan posisinya di papan atas Formula 1.

Meski lonjakan performa ini datang terlambat untuk merebut mahkota juara dunia musim 2026, Verstappen kini mengincar posisi tiga besar di klasemen akhir pembalap. Usai balapan di GP Singapura, ia hanya tertinggal delapan poin dari Lewis Hamilton dan berjarak 17 poin dari George Russell, menjadikan posisi runner-up sebagai target yang realistis.

Kendati demikian, dalam wawancaranya bersama media di paddock Singapura, Verstappen menegaskan bahwa finis di posisi kedua atau ketiga tak memiliki arti besar baginya.

"Tidak (berarti apa-apa), karena pada akhirnya Anda tidak menang. Anda tidak menjadi juara dunia, dan itulah satu-satunya hal yang penting bagi saya," tegas pembalap asal Belanda tersebut.

Sinyal Positif Pengembangan Mobil

Walau gelar juara dunia musim ini melayang, kebangkitan Red Bull di paruh kedua memberikan modal kepercayaan diri yang masif menyongsong musim depan. Verstappen menyoroti bagaimana Red Bull sempat terseok-seok dan harus berduel dengan tim papan bawah seperti Haas dan Alpine di seri awal GP Tiongkok dan Jepang.

"Hal terpenting adalah melihat posisi kami di awal musim dibandingkan dengan posisi kami saat ini. Semua peningkatan yang telah diterapkan pada mobil sejak saat itu, serta masalah-masalah yang sempat kami alami pada komponen tertentu—kami berhasil mengatasi semuanya. Hal itu sangat penting dalam menyongsong tahun depan," ungkap Verstappen dikutip dari Motorsport.com.

Ia menggarisbawahi bahwa saat tim-tim rival masih ragu dengan hasil pembaruan paket aerodinamika mereka, paket pembaruan Red Bull justru langsung memberikan dampak positif di lintasan.

Senjata Tahun Depan: Terowongan Angin Anyar

Di luar perbaikan performa mobil, terdapat faktor teknis krusial yang diyakini bakal menjadi amunisi tambahan Red Bull mulai tahun 2027, yakni pengoperasian terowongan angin (wind tunnel) baru.

Fasilitas terowongan angin yang dipakai Red Bull saat ini merupakan yang tertua di grid F1. Mantan Bos Tim Christian Horner bahkan pernah berseloroh menyebutnya sebagai "peninggalan Perang Dingin". Keterbatasan fasilitas berusia 70 tahun di Bedford tersebut kerap memicu masalah korelasi antara data simulasi dan performa riil di lintasan.

"Tentu saja, kami juga akan memiliki terowongan angin baru yang bisa digunakan tahun depan. Itu adalah hal yang terpisah, namun tentu kami berharap fasilitas itu berfungsi dengan baik dan turut membantu kami," kata Verstappen.

Technical Director Red Bull, Pierre Waché, mengisyaratkan bahwa fasilitas anyar tersebut diperkirakan siap beroperasi penuh pada awal tahun 2027, kemungkinan sekitar bulan Februari setelah melalui proses kalibrasi ketat.

Meski belum bisa dipakai untuk perancangan awal sasis RB23, terowongan angin baru ini akan menjadi senjata utama Red Bull dalam melakukan pembaruan dan pengembangan mobil secara berkelanjutan sepanjang musim 2027.