BANGSAONLINE.com - Presiden Federasi Automobil Internasional (FIA), Mohammed Ben Sulayem, memastikan Formula 1 akan kembali menggunakan mesin V8 mulai musim 2030. Kepastian itu diumumkan bersamaan dengan peluncuran Grand Prix Afrika yang akan digelar di Kigali, Rwanda.
Sebelumnya, FIA merencanakan penerapan mesin V8 pada 2031. Namun, Ben Sulayem menyatakan jadwal tersebut dipercepat satu tahun sehingga regulasi baru akan mulai diterapkan pada 2030.
Ben Sulayem menyebut kembalinya mesin V8 akan menjadi bagian dari era baru Formula 1, termasuk saat Grand Prix Afrika menggelar balapan perdananya.
“Peluncuran V8 baru akan dilakukan pada 2030, jadi Rwanda akan memiliki mesin itu pada balapan pertamanya,” kata Ben Sulayem dalam keterangannya di Rwanda.
Rencana itu hadir hanya empat tahun setelah Formula 1 menerapkan regulasi power unit terbaru yang mulai berlaku pada 2026. Regulasi ini meningkatkan porsi tenaga listrik hingga mencapai 50 persen dalam sistem penggerak mobil balap.
Sejumlah pembalap sebelumnya menyampaikan kritik terhadap regulasi power unit terbaru. Max Verstappen, Fernando Alonso, dan Lando Norris termasuk di antara pembalap yang menyoroti sejumlah tantangan, seperti fenomena superclipping dan meningkatnya ketergantungan pada manajemen baterai selama balapan.
Selain itu, sebagian penggemar Formula 1 juga menilai tingkat kebisingan mesin berkurang sejak penggunaan mesin V6 pada 2014. Kembalinya mesin V8 diharapkan mampu menghadirkan kembali karakter suara yang lebih kuat dan identik dengan era Formula 1 pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an.
Ben Sulayem menilai perubahan regulasi itu akan membawa keuntungan dari sisi teknis. FIA juga menargetkan pengurangan bobot mobil hingga sekitar 80 kilogram guna meningkatkan performa dan efisiensi kendaraan di lintasan.
Selain pengurangan bobot, regulasi baru diharapkan mampu menekan biaya riset dan pengembangan hingga 50 persen. Dukungan dari Formula One Management (FOM) serta sejumlah pabrikan mesin global disebut menjadi faktor yang memperkuat keyakinan FIA terhadap keberhasilan transisi menuju regulasi baru ini. (rom)










