Bakorwil Malang Bidik Kebangkitan Kopi Lokal Lewat Malangopi Fest 2026

MALANG, BANGSAONLINE.com – Potensi kopi Malang yang telah menembus pasar ekspor menjadi modal besar untuk membangun kekuatan agroindustri dan ekonomi kawasan.

Melalui Malangopi Fest 2026, Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang berupaya menyatukan potensi tersebut dalam satu ekosistem yang kuat, dari perkebunan hingga pasar internasional.

Festival yang digagas bersama pelaku usaha dan komunitas kopi ini tidak sekadar menjadi ajang promosi. Malangopi Fest diharapkan menjadi momentum memperkuat rantai pasok, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka peluang lebih luas bagi petani, UMKM, dan industri kreatif.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, mengatakan Malang memiliki sejarah dan potensi besar sebagai penghasil kopi dan kakao yang perlu kembali diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

“Malang punya akar, potensi, dan sejarah yang sangat kuat sebagai pusat penghasil kopi dan kakao tingkat dunia. Semangat ini yang hendak kita munculkan kembali melalui gelaran Malangopi Fest 2026,” ungkap Asep saat berdiskusi dengan Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, di Kantor Bakorwil III Malang, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Asep, perkembangan industri kopi di Malang harus diikuti penguatan ekosistem agar potensi yang dimiliki daerah mampu memberikan dampak ekonomi lebih besar.

Oleh karena itu, keterlibatan petani, pelaku industri pengolahan, UMKM, kedai kopi, komunitas, hingga jaringan pemasaran menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor tersebut.

Peluang itu ditopang keberadaan sentra kopi di Kabupaten Malang, terutama Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit. Kopi Dampit bahkan telah dikenal di pasar ekspor dan menjadi salah satu identitas unggulan kopi Malang.

Data yang disampaikan dalam materi kegiatan menyebut permintaan ekspor kopi Kabupaten Malang pernah mencapai 45 ribu ton, sedangkan pasokan lokal saat itu sekitar 15 ribu ton.

Selisih tersebut menunjukkan peluang pengembangan produksi sekaligus pentingnya membangun rantai pasok yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Asep menilai, penguatan komoditas kopi dan kakao juga sejalan dengan grand design Malang Raya Megapolitan.

Sektor unggulan daerah perlu terhubung dengan pengembangan industri, inovasi produk, konektivitas kawasan, dan perluasan pasar agar manfaat ekonominya dirasakan masyarakat secara lebih luas.

Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menegaskan bahwa potensi kopi yang telah dikenal di pasar dunia harus diimbangi program inovatif dan kolaboratif.

“Kopi dari Malang sudah diakui dunia. Buktinya dari angka ekspor kopi dari Malang. Namun, kita masih sangat membutuhkan program kerja inovatif dan kolaboratif untuk membangun keseluruhan ekosistemnya, agar bisa lebih menjamin keberlanjutan dan keunggulannya,” ujar Lathifah.

Ia juga mendorong keterlibatan perempuan dalam pengembangan ekonomi kawasan selatan Jawa Timur. Perempuan dinilai memiliki peran penting dalam penguatan ekonomi keluarga, pengembangan usaha, hingga pengolahan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah.

Dalam kesempatan itu, Lathifah mengusulkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menjadi juri utama lomba seduh kopi dalam Malangopi Fest 2026. Usulan tersebut diharapkan menambah daya tarik festival sekaligus memperkuat apresiasi terhadap kualitas dan karakter kopi lokal.

Ketua Pelaksana Malangopi Fest 2026, Aditya Candra, mengatakan festival dirancang sebagai agenda tahunan untuk menjaga keberlanjutan pengembangan ekosistem kopi Malang Raya.

“Kita konsepnya dijadikan event rutin tahunan agar keberlanjutannya bisa kita jaga bersama. Prinsip utamanya adalah kolaborasi dan orkestrasi. Kita terbuka. Ini event kita bersama,” kata Aditya, yang juga pemilik Wondo Kopie.

Malangopi Fest 2026 digagas Bakorwil Malang bersama Wondo Kopie, TosanAji.id, serta berbagai komunitas kopi dan kebudayaan di wilayah kerjanya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Hari Jadi ke-1266 Kabupaten Malang, Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Hari Pahlawan, serta Hari Disabilitas Internasional 2026.

Semangat kolaborasi turut diperluas melalui penjajakan kerja sama Dharma Wanita Persatuan (DWP) dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), melanjutkan upaya Bakorwil Malang mendorong pemberdayaan perempuan melalui rangkaian kegiatan Ibu Periwi.

Malangopi Fest dijadwalkan berlangsung pada 17–19 November 2026 di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang.

Lebih dari sebuah festival, kegiatan ini menjadi upaya mempertemukan potensi perkebunan, industri pengolahan, ekonomi kreatif, dan pasar dalam satu gerakan bersama. (dad/msn)